Menghalau Pengaruh Negatif, sambil Menata Hidup Bersama

Khotbah Minggu, 17 Agustus 2025| Pdt. Yaksih. A.N. Tnunay
Pembacaan Alkitab: Bilangan 33:50-56
Nats Pembimbing: Galatia 5: 13-14
Syalom!
Merdeka! Merdeka! Merdeka!
Kata ini adalah kata yang punya makna berharga bagi bangsa kita di awal-awal kemerdekaan. Ketika diucapkan dia mampu membangkitkan spirit nasionalisme dan cinta pada tanah air serta saudara-saudari sebangsa. Kata ini juga mampu menghancurkan sekat pemisah agama, suku, bahasa, bangsa dan daerah. Merdeka menjadi kata pemersatu semua anak bangsa, Indonesia.
Sebagai bangsa kita sudah menikmati alam kemerdekaan 80 tahun lamanya. 80 tahun ini adalah semua masa yang dialami bangsa kita untuk mulai berpikir tentang apa yang harus dilakukan sekarang dan di masa mendatang.
Ketika seseorang sudah mulai memikirkan hal itu, maka biasanya pikiran-pikiran itu melahirkan rencana, yang berisikan sejumlah langkah, strategi, metode dalam rangka mewujudkan rencana yang disusun untuk terwujudnya apa yang dipikirkan itu di masa mendatang. Sebagai contoh, ketika masih ada di masa perjuangan untuk kemerdekaan, semua sumber daya digunakan agar perjuangan itu berbuahkan kemerdekaan. Manakala kemerdekaan sudah dapat diraih, maka selanjutnya yang dipikirkan adalah apa yang akan dilakukan di masa kemerdekaan itu, baik untuk diri, keluarga, kelompok atau untuk bangsa dan negara.
Ini adalah hal-hal yang lumrah dan tidak salah, karena memang seharusnya demikian. Bacaan hari ini, yang oleh LAI (terjemahan 1) memberi judul Apa yang harus dilakukan sesudah tanah Kanaan direbut, merupakan bacaan yang berisikan tentang sikap dan prilaku Israel manakala mereka oleh Tuhan berhasil merebut tanah Kanaan.
Semua bangsa Israel yang berhasil merebut tanah Kanaan tentu saja memiliki sejumlah rencana yang dapat bervariasi di antara suku bangsa. Variasi itu sudah mulai nampak pada pasal 32, saat bani Ruben dan Gad mulai merencanakan bagian tanah mana yang akan mereka duduki saat merebut tanah Kanaan sebagai milik pusaka mereka. Dan itu merupakan hal wajar dan bukan dosa.
Akan tetapi melalui bacaan ini, Tuhan berfirman bahwa manakala mereka berhasil merebut tanah Kanaan, upaya untuk mewujudkan rencana mereka harus dilakukan dengan memperhatikan beberapa hal prinsip yang tidak boleh mereka abaikan.
Hal prinsip itu adalah pertama menghalau semua penduduk negeri itu dari hadapan mereka. Keduamembinasakan segala patung tuangan milik penduduk yang mereka halau itu dan menghancurkan bukti pengorbanan mereka. Ketiga mereka harus menduduki dan mendiami negeri itu dan yang keempat adalah mereka harus membagi tanah Kanaan untuk jadi milik pusaka mereka dengan jumlah ukuran tanah sesuai dengan jumlah keluarga.
Apakah sesungguhnya maksud dari 4 prinsip yang disampaikan Tuhan kepada Israel melalui Musa ini?
Dilihat dari isinya, maka keempat prinsip ini dapat dikategorikan dalam 2 hal, yaitu prinsip pertama dan kedua sebagai kelompok pertama dan prinsip ketiga dan keempat sebagai kelompok kedua.
Untuk kelompok pertama, yang terdiri dari prinsip pertama dan kedua, perkataan Tuhan ini berkaitan erat dengan keberimanan Israel. Sedangkan kelompok kedua, yang terdiri dari prinsip tiga dan empat itu berkaitan sekali dengan bagaimana sebagai bangsa yang terdiri dari 12 suku Israel membangun kehidupan damai untuk mewujudkan kesejahteraan hidup mereka.
Dalam kaitannya dengan hal hidup beriman, Tuhan memerintahkan Musa agar wajib dilakukan Israel saat berhasil merebut Kanaan untuk menghalau penduduk negeri itu dari hadapan mereka dan menyingkirkan serta membinasakan patung yang digunakan sebagai ilah untuk disembah bangsa sebelumnya dan tempat peribadahan mereka kepada para ilah itu.
Kata menghalau penduduk itu, bermakna memusnahkan, artinya tidak dibiarkan mereka tetap ada dan hidup di dekat dan atau bersama-sama Israel. Kata menghalau ini memiliki makna yang sama dengan membinasakan dan menghancur, yang artinya tidak dibiarkan hidup dan tetap ada di dekat dan atau bersama-sama mereka.
Kata ini kalau ditaruh dalam konteks rencana Israel untuk masa depan mereka setelah merebut tanah Kanaan akan menjadi kira-kira seperti ini, “kalau kamu (Israel) nanti berhasil merebut dan memiliki tanah Kanaan dan kamu mau mewujudkan rencana-rencanamu di negeri baru kamu sampai pada masa depan, maka kamu harus binasakan dan jangan dibiarkan hidup dan ada bersama-sama kamu, penduduk negeri itu, patung berhala dan ilahnya serta tempat mereka beribadah pada ilah itu”.
Artinya ini jika kita perhatikan memiliki makna yang mengandung unsur kekerasaan fisik – pembunuhan. Dengan arti seperti ini, maka sebuah pertanyaan mucul, “apakah harus dengan kekerasan dan jalan kekerasan kita, mewujudkan rencana kita? Kalau dia tidak berarti demikian, maka apakah maknanya”.
Maksud perintah Tuhan itu ada kaitannya dengan ayat 55. Di ayat itu disebutkan bahwa kalau Israel tidak menghalau (dalam pengertian: membinasakan) penduduk negeri itu, maka mereka akan menjadi selumbar di mata Israel, duri yang menusuk lambung yang akan menyesatkan Israel kelak.
Kalau kata-kata dalam ayat 55 kita renungkan, maka perintah untuk membinasakan di ayat 52 itu dimaksudkan untuk menghilangkan pengaruh negatif. Pengaruh jahat baik dalam hal perilaku, sikap, pola pikir yang biasa dilakukan penduduk itu atas Israel.
Sebagai bangsa yang menyembah ilah, yang disimbolkan dengan patung, dan memiliki tempat yang disebut bukit pengorbanan, penduduk negeri Kanaan adalah penduduk yang dalam ibadah kepada ilah mereka banyak melakukan praktek mengorbankan manusia, manakala meminta dan ingin menarik hati ilah untuk menolong mereka.
Mazmur 106:37-38 memberikan gambaran tentang praktek itu: “Mereka mengorbankan anak-anak lelaki mereka, dan anak-anak perempuan mereka kepada roh-roh jahat, dan menumpahkan darah orang yang tak bersalah, darah anak-anak lelaki dan anak-anak perempuan mereka, yang mereka korbankan kepada berhala-berhala Kanaan, sehingga negeri itu cemar oleh hutang darah”.
Praktek seperti ini tentu saja merupakan praktek yang bertentangan dengan hukum Allah, “jangan membunuh” (hukum ke-8), yang dikemudian hari Paulus menyebutnya sebagai hal yang sesat:
“Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.” (1 Korintus 15:33).
Pembinasaan penduduk, patung dan bukit pengorbanan itu adalah dalam rangka menjaga kemurnian iman Israel, sebab Allah sangat tahu bahwa Israel yang diangkatNya sebagai umat kepunyaanNya ini rapuh dan mudah berubah ketika hidup bersama dan dipengaruhi dengan hal-hal yang negatif, atau yang Paulus sebut sebagai pergaulan yang buruk merusak kebiasaan yang baik.
Penghalauan yang bermakna membinasakan pada waktu itu adalah pilihan satu-satunya sebab pada masa itu hukum alam, siapa kuat dia menang dan berkuasa masih diberlakukan oleh penghuni tanah Kanaan. Kalau mereka tidak dibinasakan bukan saja mereka akan memberi pengaruh buruk bagi Israel, tetapi juga akan balik membinasakan Israel.
Kalau begitu apa makna menghalau itu bagi kita di masa kini?
Karena makna kata menghalau itu ada kaitan dengan pengaruh yang akan diberi sebagai akibat yang didapat dalam pergaulan yang akan menghasilkan hal buruk yang merusak iman, maka menghalau di masa kini bukan lagi diartikan sebagai membinasakan dan atau membunuh.
Menghalau dalam kamus Bahasa Indonesia berarti menyuruh pergi, mengusir dan menggiring atas sesuatu apakah orang atau benda agar dia tidak lagi bersama-sama (berada, hidup berdampingan) dengan yang menghalaunya.
Menghalau itu berarti tidak dibiarkannya apa yang dihalau itu ada bahkan termasuk sisa dekat atau bersama dengan yang menghalau.
Dengan memperhatikan arti ini, maka menghalau itu adalah sebuah aktivitas yang isinya tidak membiarkan apa yang dihalau itu menjadi bagian dari kita.
Kalau sesuatu itu manusia, maka menghalau di sini berarti menjaga pergaulan. Tidak mengambil, menggunakan dalam bentuk pikiran dan perilaku orang yang dianggap memberi kontribusi buruk bagi kita. Mengapa?
Jawabannya karena selain itu dosa, karena membangun pergaulan dengan orang yang memberi dampak negatif bagi hidup sehingga melawan kehendak Allah, pergaulan seperti akan menyebabkan hal mewujudkan rencana di kerjakan sekarang dan masa depan akan tidak bisa diperoleh.
Sebagai contoh misalnya, kalau kita membiarkan pergaulan buruk dengan lingkungan dan orang selalu ada bersama kita, maka bisa terjadi cita-cita kita (entah apa saja itu ) menjadi terganggu atau putus di tengah jalan, karena tidak lagi fokus sebab sudah dipengaruhi oleh pergaulan buruk dengan orang dan lingkungan itu.
Dalam hal beriman pun demikian, kalau kita bisa bergaul dengan orang yang tak seiman, selalu tiap saat mendengar, melihat ada hal-hal yang berlawan dengan iman dalam bentuk perkataan dan atau perbuatan, maka bukan tidak mungkin akan mempengaruhi cara kita beriman nantinya bahkan sampai pada pola pikir dan perilaku.
Kemudian makna kelompok kedua, Tuhan minta Israel segera menduduki dan diam di negeri itu lalu membagi secara adil dan mereta berdasarkan jumlah, itu memiliki kaitannya dengan kehidupan sosial yang akan dialami Israel.
Menduduki dan mendiami itu masih ada hubungannya dengan makna dari kelompok pertama tadi. Hubungannya adalah jika hal menghalau sudah dilakukan sehingga bahanya negatifnya tidak ada lagi, maka Israel diminta segera menduduki dan mendiaminya.
Makna menduduki dan mendiami itu memiliki 2 pengertian, yaitu pertama menutup jalan masa, tempat, kesempatan bagi pengaruh negatif dari mana saja untuk tidak bisa masuk dan kembali mempengaruhi kehidupan Israel.
Cara menutup yang pertama itu akan berhasil dilakukan apabila Israel melaksanakan makna kedua dari menduduki dan mendiami, yaitu mengisi diri mereka, otak, hati, sikap dan perilaku mereka dengan hal baik, pengajaran Allah dan hal-hal membangun kehidupan lainnya dalam diri mereka.
Tujuannya supaya tidak ada tempat tersisa untuk yang negatif itu bisa masuk dan mempengaruhi kehidupan. Mengisi hal baik itu tentu saja melalui pergaulan yang baik, dengan orang dan lingkungan yang baik. Bisa juga berarti membiasakan diri untuk menyaring informasi dan pengetahuan yang baik saja ke dalam perbendaharaan otak, hati dan perenungan.
Menduduki dan mendiami itu juga dapat dilakukan melalui kebiasaan untuk berperilaku. Kebiasaan berperilaku itu, dalam bacaan ini digambarkan lewat perintah Tuhan supaya setelah menduduki dan mendiami, tiap suku diberi warisan melalui pembagian tanah itu sesuai jumlah keturunan, dimana yang banyak keturunannya mendapatkan pembangian yang besar dan yang sedikit keturunannya mendapatkan pembagian jumlah berbeda dengan yang banyak.
Tentang pembagian ini ada sebuah pesan yang kita dapatkan bahwa adil dan merata itu bukan soal sama banyak, tetapi berdasarkan komposisi jumlah yang dimiliki.
Adil dan merata itu bukan soal bagi dua 50-50 persen, tetapi sesuai banyak tidaknya karena ini berhubungan dengan kemampuan untuk mengolah dan mengembangkan karena dalam mengolah dan mengembangkan pun tidak boleh ada ruang untuk yang buruk itu masuk dan mempengaruhi.
Kalau yang sedikit dapat banyak dan kemampuannya tidak dapat mengolah maksimal lalu ada ruang kosong tersisa, maka besar kemungkinan ruang sisa itu akan dijadikan tempat atau sarang bagi hal buruk untuk memberi pengaruh bagi kehidupan.
Apa yang ada dalam kelompok kedua ini, akan juga memberikan pengaruh berhasil tidaknya rencana itu diwujudkan di masa kini maupun masa depan.
Kita sudah merdeka 80 tahun. Di alam merdeka ini setiap anak bangsa punya hak yang sama untuk mewujudkan apa yang jadi cita-citanya.
Dan dari firman ini pesan diberi bagi kita bahwa menjaga iman dan hati untuk tidak terpengaruh hal buruk dan bersikap bijaksana menggunakan kesempatan dan selalu melakukan keadilan dan kebaikan dalam hidup adalah cara kita berkontribusi untuk mengisi kemerdekaan dan memiliki kehidupan yang baik di kemudian hari. Merdeka! Dirgahayu RI.
Tuhan menolong kita. Amin.