Mengapa Mesti Kuatir?

Pdt. Yaksih A.N. Tnunai
Pembacaan Alkitab : Matius 6:25-34
Nats Pembimbing: Matius 6:25
Syalom!
Kekuatiran itu dalam kacamata iman merupakan penyangkalan terhadap janji-janji Allah. Mengapa? Sebab kekuatiran yang berlebihan akan membuat orang meragukan janji Allah dalam hidupnya serta menjadi penghambat pertumbuhan Firman Allah dalam diri seseorang.
Selian itu, menurut ahli medis, kekuatiran juga dapat merusak kesehatan seseorang dan memperpendek umur manusia. Kalau seseorang yang selalu berpikiran negatif dan kuatir terhadap sesuatu yang dijalani, dialami dan dilihatnya, maka orang itu akan rentan terjangkit penyakit.
Alkitab punya cerita tentang jenis kekuatiran seperti itu, seperti yang diperlihatkan oleh bangsa Israel. Ketika Allah membebaskan mereka dari tangan orang Mesir. Hati mereka dipenuhi rasa suka dan gembira. Namun ketika mereka mulai ada di perjalanan, mereka mulai merasakan kuatir akan kelanjutan hidupnya, dan akhirnya mereka bersunggut-sunggut kepada Musa dan Harun tentang hal makanan dengan mengatakan ‘lebih baik kami mati di tanah Mesir karena di sana ada daging, makan roti dan air yang akan membuat mereka makan sampai kenyang!
Sikap mereka ini menunjukkan bahwa seolah-olah mereka meragukan dan tidak percaya pada Allah yang akan sanggup memberi mereka makanan untuk dimakan dan air untuk diminum. Iman mereka kepada Tuhan menjadi tidak berfungsi lagi disebabkan oleh kekuatiran mereka pada hal makan dan minum.
Kekuatiran seperti yang dialami bangsa Israel juga begitu akrab dengan kehidupan manusia, temasuk manusia pada masa kini. Kuatir mulai muncul dan kuasai kita ketika harga barang semakin meningkat. Karena son ada uang. Karena ini, itu dst. Kekuatiran ini akhirnya melemahkan iman kita kepada Allah, yang sama artinya dengan kurang percaya akan pemeliharaan Allah. Kekuatiran yang dibiarkan terus ada akan dapat membuat hati seseorang beralih, yaitu bukan lagi percaya kepada Allah tetapi kepada sesuatu yang lain, seperti mammon karena menganggap seakan-akan Allah berbohong dan tidak menempati janji-Nya untuk memenuhi segala kebutuhan umatNya (Filipi 4:19).
Kekuatiran juga dapat membuat mendua hati dalam beriman, bisa beriman kepada Allah tapi juga kepada mammon. Artinya, kekuatiran itu adalah bagian yang ada dalam kehidupan kita. Dia berpotensi membuat kita lemah dan kurang beriman kepada Allah. Terhadap hal ini pertanyaannya adalah bagaimana cara mengatasi kekuatiran supaya tidak melumpuhkan iman kita? Kita akan belajar dari apa yang diajarkan Tuhan Yesus di dalam Injil Matius 6:25-34.
Kalimat pembuka dari Matius 6:25 ini unik sebab dimulai dengan kata “karena itu”, yang menunjukkan bahwa apa yang kita baca ini adalah kelanjutan dari perkataan Tuhan Yesus sebelumnya, apa itu? Pengajaran tentang hal mengumpulkan harta dimana Tuhan Yesus berkata supaya janganlah kita mengumpulkan harta di bumi tetapi kumpulkanlah harta di sorga” (Matius 6: 19-20).
Kegiatan mengumpulkan harta itu sebenarnya bertujuan untuk bertahan hidup, tetapi dalam praktek ada yang mengumpulkan harta atau dengan kata lain mencari nafkah yang dilakukan dengan cara serakah dan akhirnya melakukan tindakan menindas orang miskin (Yakobus 5:2-3) atau juga yang bertentangan dengan aturan hukum, seperti sogok atau suap dan korupsi.
Mendengar pengajaran tentang hal mengumpulkan harta di sorga ini, orang banyak mulai merasakan kuatir dalam pikiran mereka. Mengapa? Jawabannya adalah kalau mereka tidak mengumpulkan harta di bumi melainkan di sorga, maka apa yang akan mereka makan, minum dan pakai?
Kekuatiran mereka ini diketahui oleh Tuhan Yesus, karena itulah, Tuhan Yesus mulai memberikan pengajaran baru tentang hal kekuatiran, agar tidak ada kesalahpahaman dalam memahami tentang ajaran hal mengumpulkan harta di sorga.
Ajaran tentang hal mengumpulkan harta di sorga itu tidak bukan larangan untuk tidak mencari kebutuhan hidup, melainkan sebuah ajaran dan pernyataan Tuhan Yesus supaya saat bekerja mereka jangan sekali-kali kuatir akan kebutuhan mereka baiak makan, minum dan pakai. Itulah sebabnya kalimat awal bagian yang kita baca di mulai dengan kata ‘karena itu.’ Dalam pengajaranNya tentang kekuatiran, Tuhan Yesus mau katakan bahwa kekuatiran itu adalah hal yang tidak menguntungkan bagi iman dan kehidupan. Mengapa?
PertamaKekuatiran itu adalah hal yang tidak bermanfaat. Ini disampaikan dalam ayat 6:27;
“Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya”.
Kekuatiran tidak bisa memperpanjang usia tapi kasi pendek umur, salah satunya seperti alasan para ahli medis di awal, kekuatiran juga dapat merusak kesehatan seseorang dan memperpendek umur manusia. Kekuatiran itu tidak ada manfaatnya dan tidak membawa dampak apa-apa bagi keberlangsungan hidup orang yang mengalaminya. Kekuatiran itu akan juga memperburuk keadaan. Bagian ini kita temukan di ayat 34,
“Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.”
Ayat ini mau kasi tahu bahwa setiap hari ada pergumulan dan bebannya tersendiri yang tidak sama dengan hari sebelum atau sesudahnya. Dalam setiap pergumulan itu, Tuhan tetap akan memberikan kekuatan kepada setiap orang untuk menanggung bebannya tiap hari itu. Tapi kalau manusia hidup kuatir terus, maka ia telah mengambil dan memikul kesusahan yang seharusnya ia tanggung untuk hari besok, di hari itu, sehingga ia memikul beban melebihi kekuatan yang telah diberikan oleh Allah kepadanya untuk satu hari itu.
Keadaan ini bukannya mempermudah manusia menjalani kehidupannya melainkan menambah kesusahan dan kerumitan dalam hidup baik fisik dan psikis. Artinya, dapat disimpulkan bahwa alasan pertama mengapa Yesus melarang murid-murid-Nya untuk tidak perlu kuatir adalah karena kekuatiran hanya membawa keburukan pada orang yang mengalaminya.
Keduaalasan dalam hubungan meyakini kesanggupan Allah memenuhi kebutuhan anak-anak-Nya. Alasan ini kita dapatkan dalam ayat 25,
“Karena itu, aku berkata kepadamu: janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian”.
Pada ayat ini Tuhan Yesus selain memberikan larangan untuk jangan kuatir, Ia juga memberikan wawasan berupa argumen-argumen yang sangat penting dan membangun hidup pendengarnya dalam rangka melawan kekuatiran yang muncul pada pikiran mereka saat itu.
Pada ayat 25 ini, Tuhan Yesus mengajak pendengarNya untuk melakukan perbandingan antara hidup dengan makanan dan tubuh dengan pakaian. Tujuan perbandingan itu adalah supaya mereka sadar bahwa hidup dan tubuh itu jauh lebih penting, dibandingkan makanan dan pakaian.
Kalau untuk dua hal yang lebih penting yakni hidup dan tubuh sudah diberikan oleh Allah, maka hal-hal yang kurang penting seperti makanan dan pakaian, akan diberikan juga oleh Tuhan. Karena itu, tidak perlu lagi ada rasa kuatir. Mengapa? Jawabannya karena hidup bukan untuk makanan tetapi makanan untuk hidup dalam rangka mempertahankan keberlangsungan kehidupan di dunia.
Dan supaya mudah dimengerti dan dipahami oleh murid-muridNya, maka Tuhan Yesus menggunakan contoh dengan burung yang diberi makan oleh Bapa di Sorga. Ayat 26 berkata;
“Pandanglah burung-burung di langit yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu”
Burung-burung yang dimaksud pada ayat di atas tidak disebutkan secara jelas, tetapi di dalam Injil Lukas 12:24 memberikan informasi ataupun keterangan tentang burung yang dimaksud oleh Tuhan Yesus, yakni burung gagak yang merupakan salah satu jenis burung haram yang tidak boleh dimakan oleh orang Israel.
Dalam kitab Imamat pasal 11 ada dicatat tentang makanan-makanan halal dan haram yang tidak boleh dimakan. Salah satu makanan haram yang tercatat di dalamnya adalah burung Gagak. Hal ini bisa dilihat di dalam Ulangan 14:12-14 yang mengatakan,
“Tetapi yang berikut janganlah kamu makan: burung rajawali, ering janggut dan elang laut; elang merah, elang hitam, dan dendang menurut jenisnya; setiap burung gagak menurut jenisnya.”
Burung Gagak itu merupakan burung haram, tapi ia diberi makan dan dipelihara oleh Allah (Mazmur 147:9). Kalau yang Haram dipelihara Allah apalagi dengan manusia yang melebihi burung-burung itu, ia pasti akan dipelihara oleh Allah dengan baik. Lalu ada juga burung. Hal ini dapat terlihat di dalam Lukas 12:6;
“Bukankah burung pipit dijual lima ekor dua duit? Sungguhpun demikian tidak seekor pun dari padanya yang dilupakan oleh Allah”.
Ayat di atas mengatakan bahwa jikalau seseorang memiliki dua duit maka ia mendapatkan lima ekor burung pipit. Bahkan penulis Injil Matius memberikan keterangan yang cukup menganggetkan bahwa burung pipit dijual dua ekor seduit, Matius 10: 29;
“Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekor pun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu.”
Artinya burung pipit itu burung murahan yang dijual pakai diskon yang kalau beli satu ekor dikasi diskon seekor burung pipit dari penjualnya. Namun Meskipun burung Pipit adalah burung murahan, tapi Tuhan Allah tetap memberi makan dan memeliharanya. Manusia lebih berharga dari pada burung pipit, masakah Allah tidak sanggup memelihara kehidupan manusia?
Selanjutnya ada juga contoh tentang hal pakaian. Tuhan Yesus katakan bahwa bunga bakung yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal diberi keindahan yang luar biasa oleh Allah sehingga Salomo dalam segala kemegahannya pun tidak berpaikaian seindah dari salah satu bunga itu.
Artinya kalau Tuhan Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, maka Ia pasti akan lebih mendandani manusia ciptaanNya yang diciptakan menurut gambar dan rupaNya sebagai makhluk yang penting bagiNya. Karena itu, orang percaya tidak perlu kuatir akan apa yang hendak dipakai.
Semua contoh-contoh yang diberikan oleh Tuhan Yesus kepada murid-murid-Nya punya satu tujuan yakni supaya manusia tiperlu kuatir menjalani kehidupannya.
Nah bukankah contoh-contoh tersebut menjadi sebuah gambaran yang pernah terjadi dalam kehidupan kita dan merupakan sebuah fakta yang dapat dilihat langsung oleh kita?
Contoh-contoh ini memberikan gambaran yang bahwa Firman Allah itu adalah kebenaran yang mutlak. Ia hadir utnuk meneguhkan iman karena itu kekuatiran bukanlah solusi dalam mengatasi persoalan yang ada dan kita temui kehidupan. Kalau begitu apa yang harus dilakukan supaya kita tidak perlu kuatir menjalani kehidupan ini? Jawabannya disebutkan Tuhan Yesus dalam ayat 33,
“Tetapi carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenarannyamaka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.”
Inilah solusi yang Tuhan Yesus berikan dalam mengatasi kuatir ketika berhadapan dengan persoalan. Ayat ini bicara tentang hal menjadikan Allah sebagai prioritas dalam hidup sebagai sesuatu yang perlu dan penting bagi manusia.
Dalam ayat ini, Tuhan Yesus tidak sedang berjanji bahwa setiap orang yang telah percaya akan memperoleh kekayaan atau menjadi kaya raya, melainkan Tuhan berjanji bahwa pemeliharaan Allah yang mencukupkan segala kebutuhan yang diperlukan oleh anak-anak-Nya serta kekayaan surgawi akan diberikanNya.
Karenanya, supaya jangan kuatir maka yang harus dilakukan adalah memprioritaskan Tuhan dalam segala hal. Mengapa? Jawabannya karena kekuatiran hanya ada pada diri orang yang belum mengenal Allah.
Pengajaran Yesus tentang janganlah kuatir, bukanlah sebuah larangan bahwa seseorang tidak perlu bekerja lagi dan memikirkan serta mempersiapkan akan kebutuhan-kebutuhan hidup yang ia perlukan untuk hari besok. Tidak!
Kalau Yesus melarang orang tidak perlu bekerja maka ajaranNya tentu akan berlawanan dengan ayat-ayat firman Tuhan yang menuntut orang harus bekerja, sebab barangsiapa yang tidak bekerja, ia tidak makan, seperti 2 Tesalonika. 3:10:
“Sebab, juga waktu kami berada di antara kamu, kami memberi peringatan ini kepada kamu: jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan.”
Tujuan pengajaran untuk tidak perlu kuatir adalah supaya kekuatiran itu tidak merusak hidup yang membawa pada kelumpuhan iman kepada Allah, lalu berbalik dari kebenaranNya. Kekuatiran yang Tuhan Yesus ajarkan bertujuan untuk membebaskan para pengikutNya pada kekuatiran yang berlebihan terhadap kebutuhan-kebutuhan yang mereka perlukan setiap hari.
Carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenaranNya adalah pengingat akan kuasa pemeliharaan Allah seperti yang Allah sudah buat pada burung-burung dan bunga bakung. Manusia itu jauh lebih berharga nilainya di hadapan Allah dari pada ciptaanNya yang lain, dan karenanya pasti akan dipelihara Tuhan.
Dalam perjalanan hidup kita, ada begitu banyak persoalan yang menekan kehidupan kita sehingga membuat kita kuatir dan menghilangkansukacita serta membuat imun tubuh menjadi lemah. Kekuatiran dlihat Tuhan Yesus sebagai sebuah masalah kehidupan yang amat sangat serius, yang dapat melemahkan iman seseorang kepada Allah, serta dapat merenggut semangat jiwa untuk melakukan sesuatu yang harus dikerjakan.
Kekuatiran dalam bentuk ketakutan, kecemasan dan kegelisahan yang berlebihan dapat merusak hubungan kita dengan Allah. Keadaan-keadaan ini tanpa disadari merupakan penyangkalan dan ketidakpercayaan terhadap Allah, yakni terhadap janji pemeliharaan Allah atas umatNya.
Tidak ada orang yang kebal terhadap kekuatiran. Ketika persoalan datang, banyak orang akan menjadi kuatir dan akhirnya menjadi korban atas kekuatiran itu. Tapi ayat 33 mengatakan bahwa dengan percaya yang sungguh-sungguh kepada Allah, maka kekuatiran itu tidak akan menyebabkan orang yang percaya jadi korban walaupun ia menghadapi situasi-situasi sulit dalam kehidupannya untuk memenuhi kebutuhan dan keperluannya sehari-hari, karena Bapa akan memelihara serta mencukupkan keperluan anak-anak-Nya.
Tuhan Yesus dalam ajaranNya menekankan bahwa orang yang memiliki kekuatiran terhadap keperluan kebutuhannya setiap hari adalah orang-orang yang tidak mengenal Allah. Kekuatiran itu tidak membangun hidup untuk semakin dekat dengan Tuhan, tetapi justru merusak dan membuat hati menjauh dan meragukan kuasa Allah.
Tuhan Yesus ingin hidup orang yang telah menaruh harapan kepada Allah, harus menunjukkan kebergantungan dan kecintaannya kepada Allah yang telah menyelamatkan hidupnya. Caranya adalah dengan memikirkan apa yang Tuhan kehendaki dan melakukannya dalam kehidupan dengan menghilangkan rasa kuatir berlebihan.
Ajaran Tuhan Yesus tentang kekuatiran merupakan pengajaran bagi orang percaya masa kini yang dilanda oleh kekuatiran bahwa Allah yang dipercayai dan kepadaNya kita berharap sepenuhnya akan bertindak memelihara umat-Nya. Kalau kita jalani hidup ini dalam kekuatiran, itu hanya memperburuk keadaan kita.
Makna kedua dari ayat 33 berhubungan dengan kerajaan Allah dan kebenaranNya. Apa sih artinya?
Kerajaan Allah berbicara tentang kuasa Allah untuk mengasihi, sedangkan kebenaran-Nya adalah cara Allah (yakni keadilan Allah) yang mentransformasi kehidupan umat manusia. Kerajaan Allah dan kebenranNya itu bicara tentang bagaimana kita mengasihi dan membuat kehidupan kita menjadi kehidupan yang dijalani dalam keadilan dalam relasi kita dengan sesama.
Maksudnya begini, kerajaan Allah yang isinya hal mengasihi atau kasih itu dihadirkan Allah dalam kehidupan supaya keadilanNya dirasakan setiap orang melalui kehidupan umatNya. Karena itu kerajaan Allah dan kebenaranNya adalah perintah supaya kehidupan dijalani dalam kasih dan keadilan di antara sesama dalam bentuk relasi.
Kalau kita mempraktekkannya sebagai orang yang takut akan Tuhan, mengasihi sesama dengan tulus tanpa embel-embel, melakukan praktek keadilan dalam bentuk apapun dalam membangun relasi dengan sesama, maka orang-orang terdekat atau yang ada di sekitar kita yang merasakan kerajaan Allah dan kebenaranNya melalui kehadiran kita di antara mereka, akan dipakai Allah untuk membuat kita tidak merasa kuatir dalam menjalani kehidupan kita.
Kalau kita baik-baik dan berlaku adil dengan sesama, maka apakah sesama akan biarkan kita susah saat sakit, ada duka, kena bencana? Apakah sesama tidak akan berusaha juga membuat kita bersukacita dalam menjalani hidup sebab mereka juga sudah merasakan itu dari kita sebelumnya karena kita melakukan kerajaan Allah dan kebenaran Allah kepada mereka? Mungkinkah kita akan dibiarkan mereka sendiri menjalani tanpa mendampingi atau menolong?
Coba kita renungkan kembali apakah ada orang yang mau berbagi, menolong, membantu pada orang kake’ek, serakah, tukang cari masalah, sombong, egois, tak berempati saat mereka terbeban dalam hidup?
Di salah satu jemaat yang pernah saya layani 15 tahun lalu mereka menerapkan sanksi sosial bagi orang yang tak bersosialisasi dan berempati dengan tetangga dengan tidak melakukan tindakan apa-apa pada keluarga atau orang itu kalau dia ada dalam suka atau duka, padahal di lingkungan itu mereka secara bersama bersepakat untuk memberi bantuan kepada warga yang juga hadir dan peduli pada warga lain dalam beban yang mereka alami.
Artinya? Dengan memprioritaskan relasi dengan Allah dan kemudian melakukan isi pengajaranNya tentang kerajaan Allah dan kebenaranNya dalam kehidupan dengan sesama di sekitarnya, maka apapun keadaan hidup yang kita alami tidak akan membuat kita jatuh dalam kuatir yang berlebihan sebab melalui pemeliharaanNya, Allah akan menghadirkan orang-orang di sekitar kita yang sudah merasakan kerajaan Allah dan kebenaran Allah melalui kehidupan kita sebagai yang menolong kita untuk tidak perlu kuatir.
Jadi jangan pernah lupa melakukan isi kerajaan Allah dan kebenaranNya itu dalam kehidupan kita, yaitu mengasihi dan melakukan keadilan dalam kerja, dalam hidup dan dalam relasi dengan sesma karena sewaktu kita terbeban dalam hidup, pemeliharaan Allah yang membuat kita tidak kuatir akan dihadirkan Allah melalui mereka yang telah pernah merasakan kasih dan keadilan Allah yang kita buat dalam hidup dan mereka, untuk hadir dan membuat kita tidak perlu kuatir atas apa yang sedang kita alami.
Tuhan memberkati.