Alkitab Sebagai Pedoman Hidup*

Oleh: Calon Vikaris Intan Parera
Bacaan : Mazmur 119:105-112
Observasi
Mazmur 119 merupakan mazmur terpanjang, yang terdiri dari 176 ayat. Mazmur ini punya ciri khas, yaitu terdiri dari 22 bait, dan di tiap bait berisi 8 ayat yang diatur berdasarkan abjad Ibrani. Bait pertama dimulai dengan huruf pertama, demikian seterusnya, dan bagian bacaan kita ini adalah bait ke-14, yang dimulai dengan huruf Nun(נ). Pola tulisan (akrostik) seperti ini tidak hanya bertujuan memperindah tulisan tetapi dimaksudkan juga untuk mempermudah pendalaman Firman dengan metode hafalan.
Bentuk sastra seperti ini digemari pada masa pembuangan dan sesudahnya. Sebab pada masa itu, orang-orang Israel sedang berjuang mempertahankan iman mereka agar tidak terbawa arus budaya Babel dan bangsa-bangsa sekitar, dan turut dalam penyembahan berhala. Mereka pada masa itu kehilangan Bait Suci – pusat ibadah, sehingga firman Tuhan menjadi topangan utama yang mudah dihafalkan dan dapat mereka bawa untuk direnungkan setiap hari.
Namun, ada beberapa pandangan yang menyatakan bahwa Mazmur 119 adalah kumpulan doa-doa pribadi Daud, karena gaya bahasanya sangat puitis. Selain itu, mazmur ini juga penuh dengan luapan emosi pribadi soal penderitaan, ancaman musuh dan penganiayaan yang sesuai dengan pergumulan pribadi Daud.
Terlepas dari perdebatan tersebut, pesan utama Mazmur 119 tetap sama, yaitu firman Tuhan menjadi pusat kehidupan umat Allah.
Pada bagian pembacaan kita, pemazmur memakai simbol “pelita bagi kaki” dan “terang bagi jalan” (ay. 105). Pemazmur mencoba memberikan gambaran sederhana tentang seberapa penting fungsi pelita pada zaman itu. Pelita menjadi satu-satunya sumber penerangan, untuk melakukan perjalanan agar kaki tidak tersandung dan untuk menemukan arah jalan yang tepat.
Pemazmur kemudian menunjukkan bagaimana cara menanggapi keseluruhan Firman itu dalam kehidupan nyata. Ia menyadari bahwa realitas kehidupan sering memperjumpakan dia dengan penindasan (ay. 107), bahaya yang maut (ay.109), atau bahkan di jebak musuh (ay. 110).
Meskipun kehidupan yang sulit itu menjadi bagiannya, tapi ia tidak mengeluh, tapi tetap besumpah setia untuk memegang aturan dalam Taurat (ay. 106), menaikan pujian pada Tuhan (ay. 108), dan menjadikan Firman sebagai pusaka yang lebih berharga dari apapun (ay.111) dan akhirnya memutuskan bahwa Firman Tuhan jadi peganganan hingga akhir hidupnya (ay.112).
Pertanyaan Diskusi
- Dalam hal apa saja firman Tuhan menjadi pelita dan terang hidup kita saat ini?
- Bagaimana kita tetap setia hidup menurut firman di tengah tantangan dan penderitraan?
- Bagaimana pandangan kita terkait firman Tuhan sebagai pusaka berharga dalam kaitannya dengan orang percaya masa kini?
Persiapan Renungan
- Pendahuluan
Menarik perhatian pendengar dengan memberikan ilustrasi sederhana: bisa tentang ilustrasi mati lampu, cerita/pengalaman kehidupan sebelum ada listrik, atau pengalaman salah arah.
Saran:
Setiap orang butuh pedoman dalam hidupnya. Pedoman dibutuhkan untuk menolong kita agar berjalan ke arah yang salah atau bertindak di luar yang seharusnya. Setiap hari kita punya pedoman-pedoman sederhana dalam hidup. Seorang yang hendak berpergian membuka maps agar tidak tersesat. Seorang mama yang mau memasak mencari resep sebagai pedoman. Ketika hendak merakit peralatan, kita melihat buku petunjuk agar hasilnya baik. Kalau hal-hal kecil saja kita butuh pedoman, lalu bagaimana dengan hidup orang Kristen? Apa yang menjadi pedoman hidup bagi orang percaya?
Jawabannya kita temukan dalam Mazmur 119.
- Pendalaman Teks
Bagian ini dapat diisi dengan pembahasan sebelumnya (observasi).
- Pesan Teks
Pertanyaan diskusi menjadi acuan untuk poin-poin pesan teks. Berikut beberapa saran:
Dari bagian Mazmur 119:105–112 ini, ada tiga pesan penting yang bisa kita pegang bersama:
- Alkitab: Pedoman Hidup Orang Percaya
- Firman Tuhan Memberi Kekuatan di Tengah Tantangan
- Tanggung Jawab Orang Kristen untuk Menjaga dan Mewarisikan Pusaka
Catatan:
Pastikan dalam menyampaikan pesan teks, kita juga melihat konteks dari pendengar.
*bahan ini dibahas dalam Ibadah persiapan presbiter pada hari Sabtu (30 Agustus 2025) untuk selanjutnya digunakan sebagai bahan pada ibadah-ibadah keluarga/Rumah Tangga di Rayon pada minggu pertama September.
terima kasih Tuhan Yesus memberkati…