Amatilah, Siapa Yang Paling Setia di GMIT

Oleh: Matheos Viktor Messakh
“Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami sendiri.”
(2 Korintus 4:7)
Dalam suratnya kepada jemaat di Korintus, Rasul Paulus mengungkapkan bahwa dirinya dan para pelayan Injil membawa harta rohani yang luar biasa—yaitu terang Injil dan panggilan pelayanan—di dalam bejana tanah liat yang rapuh. Ungkapan ini bukan hanya metafora tentang kelemahan manusia, tetapi juga penegasan teologis bahwa pelayanan Kristen tidak bertumpu pada kekuatan, kehormatan, atau kapasitas manusiawi, melainkan pada kekuatan Allah yang bekerja melalui kerendahan.
Kerendahan Hati Sebagai Sumber Kesetiaan
Dalam konteks Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT), refleksi ini menemukan gaungnya yang kuat. Berdasarkan pengamatan saya, dalam praktik pelayanan di berbagai jemaat GMIT, terlihat bahwa justru mereka yang berasal dari latar belakang sosial yang lebih sederhana—ibu rumah tangga, orang muda yang belum menonjol dalam masyarakat, atau anggota jemaat dari lapisan ekonomi bawah—seringkali menunjukkan kesetiaan yang luar biasa dalam pelayanan. Mereka inilah “bejana-bejana tanah liat” yang oleh Paulus disebutkan dengan penuh penghormatan.
Kesetiaan mereka tidak lahir dari ambisi atau kalkulasi status sosial, melainkan dari kesadaran akan anugerah dan rasa tanggung jawab yang sederhana namun kokoh. Mereka melayani bukan karena merasa mampu, tetapi karena tahu bahwa mereka telah dipercaya oleh Tuhan untuk melayani, dan kesadaran itu sendiri menjadi sumber kekuatan mereka. Dalam kerendahan hati itulah justru kesetiaan bertumbuh. Doa mereka mungkin tidak seteratur orang yang berpendidikan tinggi. Khotbah mereka mungkin tidak sebagus mereka yang belajar homiletika, bahkan mereka mungkin selalu berjuang dengan rasa percaya diri mereka ketika berbicara dalam ibadah rumah tangga. Tapi jangan tanyakan kesetiaan mereka untuk melayani.
Sebaliknya, para pelayan dari kalangan terpelajar atau tokoh masyarakat yang memiliki status sosial tinggi, seringkali bergumul dengan komitmen yang berkelanjutan dalam pelayanan. Mereka kadang datang dengan semangat yang luar biasa karena merasa mampu, namun ketika berhadapan dengan tantangan pelayanan cepat patah dan mengundurkan diri. Itu karena mereka tidak sadar dan tidak mau mengakui bahwa mereka sesungguhnya hanya bejana tanah liat. Mereka tak mau mengakui kerapuhan mereka, dan bahkan bisa berkonflik untuk menyangkal kelemahan itu. Walaupun tentu tidak bisa digeneralisasi, pengamatan ini mengundang pertanyaan yang penting: mungkinkah kerentanan dan ketidakterkemukaan justru membuka jalan bagi kesetiaan yang lebih murni?
Tegangan dalam Struktur Jabatan GMIT
Dalam struktur pelayanan GMIT, terdapat pembagian antara jabatan pelayanan dan jabatan organisasional. Dalam jabatan pelayanan, ada tiga bentuk presbiter non-gaji: penatua, diaken, dan pengajar. Namun dalam praktiknya, terjadi hierarki sosial yang tidak resmi: penatua sering kali dipilih dari kalangan terpelajar dan terkemuka, sedangkan diaken dan pengajar kerap diisi oleh mereka yang dipandang kurang berpengalaman atau kurang menonjol. Kendati secara teologis dan organisasional ketiganya setara, dinamika sosial di banyak jemaat GMIT menunjukkan adanya kecenderungan untuk mengaitkan jabatan dengan status sosial.
Lebih jauh lagi, sering kali para laki-laki yang menduduki jabatan penatua—karena dianggap sebagai tokoh masyarakat—lebih banyak terlibat dalam urusan-urusan organisasi gereja. Tidak jarang pula, urusan-urusan ini menjadi sumber ketegangan dan konflik internal. Sementara itu, para perempuan, para mama-mama, orang-orang kecil, berjalan dalam lorong pelayanan yang lebih sunyi: melayani ibadah rumah tangga, melakukan kunjungan kasih ke rumah sakit, terlibat dalam pelayanan diakonia dan penguatan komunitas jemaat, semua dilakukan dalam keterbatasan dan tanpa banyak keluhan. Kata-kata doa mereka mungkin tidak seteratur para teolog, kemampuan berkhotbah dan pastoralnya mungkin jauh dari sempurna, namun kesetiaan mereka sering kali tak tergantikan.
Kesetiaan yang lahir dari kerendahan ini tidak mencari sorotan atau panggung, karena memang tidak memerlukan pengakuan. Ia mengalir dari relasi yang tulus dengan Tuhan dan rasa tanggung jawab sebagai anggota tubuh Kristus. Mereka melayani dalam diam, dan justru dalam keheningan itu Injil diberitakan—melalui tindakan kasih, bukan pidato megah.
Paradoks Bejana: Lemah tapi Dipakai
Kekuatan sejati pelayanan Kristen, seperti yang ditegaskan oleh Paulus, justru muncul ketika para pelayan menyadari keterbatasannya. Paulus tidak menyembunyikan kelemahannya, bahkan menjadikannya dasar untuk menunjukkan kemuliaan Allah (bdk. 2 Korintus 12:9). Hal ini relevan dengan kenyataan bahwa mereka yang tidak merasa hebat justru lebih terbuka bagi kuasa Allah untuk bekerja melalui mereka. Mereka sadar bahwa mereka rapuh, lemah dan hanya Injil saja yg kokoh. Injil yang kokoh itu ditaruh dalam bejana tanah liat yang rapuh. Karena mereka dengan rendah hati menyadari bahwa hanya karena kemurahan Allah mereka menerima tanggungjawab pelayanan, maka mereka tidak akan tawar hati (2 Kor 4: 1).
Kerendahan hati bukan hanya prasyarat untuk setia, tetapi juga kekuatan untuk bertahan. Orang-orang kecil tidak menggantungkan pelayanan mereka pada kehormatan atau balasan duniawi. Mereka tidak mudah kecewa ketika tidak diakui, karena sejak awal mereka tidak mengejar pengakuan. Sikap tidak mudah kecewa yang lahir dari kerendahan hati ini disebut Paulus sampai dua kali dengan kalimat “kami tidak tawar hati” (2 Kor. 4: 1 dan ayat 16). Mereka tidak akan tawar hati jika ditolak, mereka tidak akan tawar hati jika tak dianggap, mereka tidak akan tawar hati jika menghadapi kenyataan pelayanan yang tidak seperti yang mereka inginkan. Di sinilah letak kekuatan bejana tanah liat: karena rapuh, ia tidak sombong. Karena sadar dirinya mudah pecah, ia tidak membanggakan diri, dan justru karena itu, ia dapat diisi dan dipakai oleh Allah. Justru karena ia tahu bahwa ia hanyalah alat yg rapuh dan mudah pecah, maka ketika menghadapi tantangan dalam pelayanan ia “tidak tawar hati”. Sebab ia tahu bahwa Injil itu kuat, tetapi ia adalah bejana yang rapuh.
Penutup: Mewartakan Injil dalam Kerendahan
Dalam dunia yang sering menilai orang dari gelar dan posisi, GMIT diingatkan kembali oleh kesaksian Paulus bahwa pelayanan Injil bukanlah soal siapa yang paling terampil atau dihormati, tetapi siapa yang paling bersedia menjadi wadah bagi kuasa Allah. Kesetiaan pelayanan bukan ditentukan oleh tingginya pendidikan atau nama besar, tetapi oleh kerendahan hati untuk tetap berjalan bersama Tuhan dalam suka maupun duka.
Dengan kata lain, dalam tubuh Kristus, tidak ada jabatan yang terlalu kecil bila dijalani dengan kesetiaan. Para diaken yang tak terlihat, para pengajar muda yang tak dikenal, para mama-mama yang tak disorot—mereka adalah bejana tanah liat yang membawa harta surgawi.
Mungkin memang bukan kebetulan bahwa yang paling setia adalah mereka yang paling tahu bahwa mereka rapuh.