Badai Pasti Berlalu

Pembacaan Alkitab : Keluaran 15:19-21
Syalom!
Bacaan ini adalah penjelasan untuk pasal 15 ayat 1-21 tentang mengapa Musa, Israel dan Miryam beserta para perempuan Israel itu menyanyi? Jawabannya adalah karena Firaun dan angkatan perang berkudanya berhasil dilumpuhkan, dikalahkan dan dihancurkan untuk tidak pernah bisa bangkit lagi.
Angkatan perang Firaun adalah kekuatan perang yang sulit ditaklukkan saat itu. Mereka menjadi momok yang menakutkan bagi siapa saja yang berperang dengan mereka. Angkatan perang ini diperintahkan Firaun mengejar Musa dan Israel, yang pada akhirnya berhasil menyusul Israel hingga terjepit di Laut Teberau.
Kedatangan angkatan perang yang berhasil mengejar Musa dan Israel menimbulkan ketakutan, kecemasan dan kegelisahan yang luar biasa bagi Israel, karena sudah barang tentu Israel akan binasa oleh angkatan perang berkuda yang paling ditakuti pada masa itu.
Tetapi mengapa Firaun kembali memerintahkan angkatan perang terkuatnya untuk mengejar Musa dan Israel setelah ia sendiri mengizinkan mereka (Kel.12:31-32)?
Ada alasan yang melatarbelakangi mengapa Firaun kembali mengejar Israel. Alasan itu adalah bahwa Firaun belum rela melepaskan Israel keluar dari Mesir. Mengapa?
Pertama, Israel adalah tenaga kerja yang diandalkan Mesir di bidang infrastruktur maupun ekonomi. Kehadiran mereka 430 tahun (Kel.12:40) telah membawa banyak perubahan bagi Mesir. Ada 2 kota yang mereka bangun Piton dan Raamses dan sejumlah fasilitas kota lainnya. Israel juga menjadi pendukung persediaan pangan bagi Mesir karena kerja mereka di bidang pertanian dan juga peternakan. Kehadiran Israel di Mesir tanpa dibayar ini memberikan dampak yang sangat signifikan bagi pertumbuhan ekonomi Mesir masa itu.
Melepaskan Israel berarti kerugian bagi Mesir. Kerugian itu akan dapat melemahkan Mesir secara ekonomi, padahal waktu itu Mesir sedang ada dalam masa kejayaan dan membangun angkatan perang yang dahsyat dan ditakuti untuk dapat menguasai dunia.
Itulah sebabnya ketika Firaun diberitahukan bahwa Israel di bawah kepemimpinan Musa dan Harun sudah meninggalkan Mesir, maka ia berubah pikiran dan kemudian menyiapkan angkatan perang berkuda terbaiknya dan memimpin sendiri pengejaran Israel agar dapat dibawa kembali ke Mesir untuk mengerjakan tugas mereka dahulu (Kel.14:5-7).
Kedua, memang setelah kejadian tulah ke-10, kematian anak sulung di Mesir baik manusia dan hewan telah berhasil melunakkan hati Firuan untuk memperbolehkan Musa membawa Israel ke luar dari Mesir sesuai permintaan Musa.
Kematian anak sulung itu erat hubungannya dengan permintaan Musa untuk membawa Israel keluar dari Mesir karena hendak beribadah kepada Tuhan. Kematian anak sulung itu menghadirkan duka dan luka yang mendalam bahkan bukan tidak mungkin ada rasa dendam yang mau dibalaskan.
Rupanya setelah masa perkabungan itu lewat di Mesir, Firuan dan rakyatnya kemudian sadar bahwa Israel sudah meninggalkan mereka, Mesir. Seperti alasan pertama tadi mereka ingin Israel kembali sekaligus akan memperlakukan Israel dengan tindakan dan perlakuan yang lebih keras dan hebat lagi agar Israel menderita seperti penderitaan mereka akibat kehilangan anak-anak mereka.
Jadi bukan tidak ada sebab Firaun bertindak demikian, mengejar Israel untuk mengembalikan Israel kembali ke Mesir. Dengan kedua maksud itu, ia membawa angkatan perang berkuda terbaiknya, yang berjumlah 600 kereta dan perwiranya untuk membawa Israel pulang kembali ke Mesir.
Biasanya dalam 1 kereta terdapat 2 prajurit, 1 supir kereta dan 1 perwira terlatih. Itu artinya ada 1.200 prajurit yang mengejar Israel. Angka ini kelihatannya kecil jika dibandingkan dengan jumlah Israel yang mereka kejar, akan tetapi kehadiran mereka bagi Israel itu adalah ancaman serius bagi Israel. Dalam pasal 14:10-12 menggambarkan kepada kita betapa takutnya Israel waktu melihat mereka terkejar oleh 1.200 prajurit terlatih Mesir. Mengapa?
Jawabannya sebab yang mengejar mereka adalah prajurit yang sudah mahir berperang dan terkenal kegarangan dan kebuasaannya dalam membantai musuhnya bahkan prajurit Mesir selalu menang dalam pertempuran. Sedangkan Israel selama ini tidak terlatih berperang sebab mereka adalah pekerja. Pisau dan parang mereka gunakan untuk alat kerja bukan alat perang. Bisalah dibayangkan apa yang akan terjadi jika pasukan Mesir sampai pada mereka. Ini bukan akan menjadi sebuah peperangan yang berimbang tetapi akan menjadi pembantaian yang mengerikan dan Mesir atas Israel. Inilah yang membuat mereka takut.
Tentara Mesir yang dipimpin langsung Firaun datang untuk menebarkan ancaman sekaligus menunjukkan keperkasaan mereka untuk mengintimidasi Israel sehingga mereka menyerah dan kembali diperbudak dengan pulang ke Mesir.
Kedatangan tentara Mesir ini adalah juga merupakan intimidasi fisik dan psikis untuk melemahkan fisik dan psikis Israel sehingga mereka akan mudah menyerah pada Mesir. Kehadiran tentara Mesir yang gagah perkasa waktu itu adalah aktraksi kesombongan Mesir karena merasa berkuasa, kuat, hebat, mampu sehingga mau menindas yang dianggap lemah dan tak berdaya.
Sampai pada point ini, sebuah catatan penting untuk kita refleksikan bersama muncul bagi kita. Catatan refleksi itu adalah bahwa kelebihan yang ada pada seseorang ketika digunakan untuk menebar ancaman dalam rangka mengintimidasi dan menindas sesama, membully atau menghancurkan sesama baik secara fisik dan psikis adalah tindakan kekejian bagi Tuhan.
Menggunakan kelebihan untuk maksud seperti itu tidak akan pernah dibiarkan Tuhan merajalela dalam kehidupan. Hal ini kita temukan dalam ekspresi sukacita Miryam dan para perempuan Israel yang bernyanyi “kuda dan penunggangnya dilemparkanNya ke dalam laut”.
Kalimat pendek dalam nyanyian ini menunjukkan bahwa perlakuan intimindasi, menindas, membully dan upaya menghancurkan sesama hanya karena dia lemah dengan menggunakan kekuatan, kekuasaan dan kelebihan yang ada pada seseorang akan dilawan oleh Tuhan.
Perlawanan Tuhan itu akan menjadi kehancuran bagi pelakunya sebab dalam perlawanan itu pelaku penindasan itu akan dibenamkan ke dalam kehancuran dan kebinasaan seperti kuda dan penunggangnya ke dalam laut.
Akhir-akhirnya tindakan seperti ini sering kita baca dan tontong di media massa. Ada perudungan dalam kehidupan beragama yang dilakukan anggota agama mayoritas pada yang minoritas. Ada bullying yang dilakukan kelompok yang merasa diri berkuasa, hebat, punya kelebihan pada kelompok atau orang yang dianggap lemah. Itu terjadi di berbagai bidang kehidupan.
Ada di sekolah, ada pada waktu bekerja di tempat kerja. Ada atasan pada bawahannya. Ada suami pada istrinya yang istilah kerennya KDRT. Ada apparat keamanan kepada masyarakat seperti kasus pembunuhan di Ambon yang melibatkan seorang perwira menengah pada petani. Ada senior pada yunior seperti kasus prada Lucky atau serda TT pada 2 yunior siswa SPN, dan masih banyak lagi.
Tindakan-tindakan ini tentu saja ditentang oleh Tuhan dan hari ini kita dibimbing Tuhan untuk menunjukkan betapa Tuhan tidak menghendaki dan akan menghukum pelakunya seperti yang dilakukanNya pada kuda dan penunggangnya dari prajurit Mesir yang dibenamkannya di dasar laut Teberau.
Pesannya sederhana, berhenti melakukan tindakan intimidasi, bully, menindas dan merencanakan kebinasaan sesama hanya karena merasa kuat untuk menindas yang lemah. Berhenti sebelum dibenamkan Tuhan. Berhenti karena akan berakibat buruk pada diri dan masa depan pelakunya.
Hal lain yang dipesankan dari lirik lagu Miryam dan para perempuan Israel bagi kita dalam kata-kata “kuda dan penunggangnya dilemparkanNya ke dalam laut” adalah pesan tentang tindakan penyelamatan Tuhan atas kehidupan umat yang berseru kepadaNya.
Israel di Mesir dikenal dalam sebutan Habiru atau Hebrew, yang artinya bangsa berdebu karena pekerjaan mereka yang berurusan dengan debu dan tanah. Pekerja kasar dan keras. Habiru itu dianggap sebagai kelas terendah dalam strata sosial masyarakat masa itu. Mereka 400 tahun tertindas oleh Mesir setelah kematian Yusuf yang dihormati Firaun di mesir. Dan karena itu hidup mereka selalu penuh penderitaan.
400 tahun mereka hidup dalam kesengsaraan dan selama itu pula mereka berseru kepada Tuhan, Allah leluhur mereka memohon pelepasan. Dan Tuhan akhirnya mengutus Musa dan Harun untuk melakukan tindakan pembebasan itu sehingga akhirnya mereka berhasil keluar dari Mesir.
Walaupun Israel telah merdeka dari perbudakan di Mesir dan sedang berjalan menuju masa depan dengan pengharapan pada janji Tuhan untuk memberikan mereka tanah perjanjian yang penuh dengan susu dan madu, namun mereka harus menanti dan menjalaninya juga dalam keadaan yang dipenuhi ketakutan dan kekuatiran, seperti kita begitu takut ketika baca ralaman BMKG tentang cuaca terkini di musim penghujan tahun ini setelah pengalaman SEROJA 4 April 2021 kemarin. Mereka sedang berjalan untuk meraih masa depan yang penuh pengharapan tetapi takut dan kekuatiran berjalan bersama mereka.
Dalam keadaan seperti ini kata-kata dalam nyanyian Miryam dan para perempuan Israel yang kita baca saat ini, yakni “kuda dan penunggangnya dilemparkanNya ke dalam laut”, adalah sebuah kalimat berisikan harapan bahwa walau ada ancaman yang ikut sertai kehidupan kita dalam bentuk pencobaan, ketakutan, kekuatiran, tantangan bahkan badai sekalipun, kita tidak sendiri, Tuhan ada bersama kita. Dia siap menolong kita membawa kita menang atas keadaan-keadaan tadi dengan dua catatan penting untuk kita lakukan, yaitu:
- Jangan merupakan bagian dari mereka yang suka melakukan praktek seperti Firaun dan pasukan berkuda Mesir, mengintimidasi dan menindas, membully dan merencanakan kehancuran sesama
- Tetaplah berseru, beribadah dan beriman kepada Tuhan.
Bagi yang memperhatikan 2 hal ini dan melakukannya dalam kehidupan, maka dipastikan akan berlaku kata-kata ini, “Badai pasti kan berlalu”. Amin! Tuhan memberkati!