Bukan Sekedar Kata tetapi juga Perbuatan

Pdt. Yaksih A.N. Tnuani
Nats Pembimbing: Titus 2:7
Pembacaan Alkitab : Titus 2:1-10
Surat Titus adalah salah satu surat pastoral dari Paulus. Surat ini secara khusus diberikannya kepada Titus, yang adalah salah seorang rekan sekerja Paulus (lih. Gal.2:3). Titus ini juga adalah orang yang Paulus utus untuk menyelesaikan persoalan yang sedang terjadi di Korintus. Artinya, Titus merupakan seorang yang dipercaya Paulus dalam pelayanan pemberitaan injil Kristus.
Titus ini berkebangsaan Yunani, Ia ditunjuk oleh Paulus dalam memimpin pelaksanaan pelayanan dan pertumbuhan jemaat di Kreta. Dan karena itu, dia adalah seorang pemimpin, sehingga surat pastoral Paulus ini memiliki tujuan yang penting untuk segera dilakukan oleh Titus di Kreta sebagai pemimpin jemaat atau pengatur rumah Allah.
Kata “segera” itu bermakna bahwa hal yang diminta oleh Paulus ini tidak bisa lagi ditunda-tunda olehnya. Dan karena itu, pertanyaannya adalah apakah yang diminta Paulus untuk segera dilakukan Titus sebagai pengatur rumah Allah di Kreta? Mari kita periksa bersama.
Ayat 1 dari pasal 2 ini dimulai dengan kata “tetapi” sebagai kata penghubung. Kata ini memiliki makna tentang sesuatu yang berlawanan dengan hal yang mendahuluinya. Dan hal itu menunjuk pada bagian sebelum pasal 2 ini, yaitu pasal 1: 5-16.
Kalau pasal 1: 5-16 ini kita periksa, maka dalam bagian itu ada sejumlah nasehat yang Paulus berikan kepada Titus untuk dilakukannya sebagai rujukan supaya diperbaiki agar maksud pasal 2:1-10 terjadi di jemaat Kreta. Dalam pasal 1:5-16, Paulus mengampaikan bahwa praktek hidup kudus para penilik jemaat berlangsung dengan tidak benar. Mengapa? Ini terjadi karena walaupun mereka menyebut diri mereka orang-orang beriman, tetapi dalam perbuatan, apa yang mereka perbuat itu ternyata menyangkali apa yang mereka sebut sebagai orang beriman (ayat 16).
Karena itu, kata “tetapi” memiliki makna supaya hal yang segera harus diperbuat Titus, yakni untuk menunjukkan teladan bagaimana harus berbuat baik (2:7a) dan hidup sesuai dengan Tuhan kehendaki sebagai bentuk pemberitaan injil, mesti dilakukan.
Maksudnya, ketika Titus memberitakan injil, maka yang ia beritakan dengan mulut sebagai pengajaran verbal itu harus berlanjut pada praksis, aksi dalam tindakan, sebab pemberitaan injil yang harus Titus perbuat di Kreta adalah pemberitaan injil yang bersifat komprehensif, maksudnya bukan sekedar kata tapi juga berwujud dalam perbuataan, yang dapat memberikan sebuah keteladanan tentang kehidupan yang berintegritas (omong apa na buat itu) di hadapan Allah.
Pemberitaan injil yang komprehensif ini, diberitakan dengan memperhatikan kelompok usia dan jenis kelamin. Pertanyaannya adalah, mengapa?
Penyebutan nasehat yang disesuaikan dengan jenis kelamin, laki-laki dan perempuan dan berdasarkan kelompok usia, rupanya memiliki tujuan, yang jika diperhatikan dari keseluruhan isi pasal 2:1-10 ini, maka alasan di balik anjuran pembagian ini adalah supaya tiap-tiap jenis kelamin dalam jemaat, yang terdiri dari kelompok-kelompok berdasarkan usia dapat memahami tujuan keberadaan mereka, peran dan fungsi mereka dalam menjalani kehidupan sebagai murid Kristus.
Permintaan untuk memberi nasehat berdasarkan kelompok usia dan jenis kelamin, menunjukkan kepada kita bahwa keberadaan murid Kristus di pulau Kreta itu holistik sebab terdiri dari jenis kelamin yang berbeda dan usia yang bervariasi.
Perbedaan-perbedaan ini dengan sendirinya membutuhkan perlakuan yang berbeda ketika injil disampaikan. Perlakuan yang berbeda ini perlu agar tujuan injil itu bisa diserap dengan baik dan benar sekaligus memenuhi kebutuhan penerimanya, sehingga ketika mereka menjalani kehidupan mereka, mereka dapat menerapkan dengan tepat injil itu dalam kehidupan mereka.
Permintaan Paulus ini mengingatkan kita bahwa pemberitaan injil yang dikerjakan oleh hamba Tuhan bukan serta merta menyamaratakan calon penerima injil menurut kemauan pemberita melainkan disesuaikan dengan kemampuan dan peran yang dimiliki oleh calon penerima injil itu. Mengapa?
Ilmu-ilmu Sosial-Antrophologi dan Psikologi memberi beberapa hal yang kalau dipakai dalam hubungan dengan nasehat Paulus kepada Titus, dapat menolong kita menemukan jawaban atas pertanyaan mengapa tadi, yaitu:
Ilmu sosiologi-antrophologi yang subjeknya adalah masyarakat, menyebutkan bahwa dalam budaya dan kebiasaannya, masyarakat hidup dalam peran sosial yang membedakan jenis kelami dan kategori usia. Masyarakat itu diperlakukan dengan memperhatikan jenis kelamin dan usia.
Dalam masyarakat yang patriakhal, laki-laki dewasa memiliki peran sosial yang dianggap penting dari yang lain. Semakin berusia lanjut, status yang diberikan kepadanya untuk diperhatikan kelompok di bawahnya lebih besar. Penghormatan yang wajib diberikan juga berbeda.
Nasehat Paulus agar Titus mengajarkan laki-laki dewasa untuk berperilaku terhormat dan bijak adalah supaya laki-laki dewasa yang secara sosial diberi tanggung jawab dan peran sebagai pemimpin, dapat menjalankan perannya dengan baik dan bertanggung jawab karena ia memahami makna injil yang diberitakan kepadanya.
Laki-laki tua wajib diajarkan agar menjadi terhormat, bijaksana dst, karena mereka akan menjadi pemimpin dalam keluarga mereka dan menjadi figur yang penting untuk ditiru kehidupannya.
Demikian juga halnya dengan perempuan tua-dewasa. Mereka adalah penyampai pertama nilai kehidupan kepada anak dalam keluarga karena tugas mendidik yang diberikan kepada mereka.
Kalau mereka dapat memahami berita injil dengan baik dari hasil pengajaran yang baik dan bertanggung jawab berdasarkan usia mereka, maka mereka juga kelak akan mampu memberi teladan dan pengajaran yang baik kepada anak-anak mereka.
Dari ilmu psikologi, di mana subjeknya adalah manusia sebagai pribadi, memberikan informasi bahwa kebutuhan tiap pribadi itu berbeda. Ada kemiripan kebutuhan yang bisa didapatkan sekelompok orang berdasarkan pembagian usia, walaupun tiap pribadi itu unik.
Ada kebutuhan dan keinginan dalam tiap kategori usia untuk diperlakukan berbeda dengan kebutuhan dan keinginan kategori usia lainnya. Ketika seseorang atau kelompok orang yang didasarkan pada kategori usia diperlakukan berdasarkan kebutuhan dan keinginannya, maka kemungkinan untuk kategori itu memahami apa yang diberikan kepadanya lebih besar untuk kebutuhan dan keinginannya.
Kontribusi ilmu psikologi ini menggambarkan bahwa permintaan Paulus akan memiliki pengaruh pada keberhasilan daya serap untuk pembentukan pemahaman dan pengertian kemajuan pekabaran injil.
Terhadap hal ini, kita dapat merumuskan kesimpulan, yaitu bahwa pekabaran injil yang diberitakan apakah dalam bentuk verbal maupun non verbal, untuk membentuk dimensi kognitif (pengetahuan-penalaran-pengertian), afektif (sikap) atau psikomotorik (tingkah laku), bukan disampaikan menurut keinginan pekabar injil itu, melainkan memperhatikan dengan sungguh kebutuhan, kemampuan dan keinginan calon penerimanya, sehingga mereka mampu menerima apa yang disampaikan karena hal itu menjadi kebutuhan, keinginan mereka.
Metode seperti ini banyak kita temui dalam pengajaran yang dilakukan Tuhan Yesus semasa hidupNya. Sebagaimana yang disaksikan dalam injil-injil, dalam banyak kesempatan, pengajaran Tuhan Yesus disampaikan dengan bahasa perumpamaan, dimana perumpamaan itu diambil dari apa yang bisa dipahami oleh pendengarnya karena sesuai dengan kebutuhan mereka.
Penyampaian dengan metode seperti ini mampu memberi kesan bagi banyak orang yang mendengarnya. Injil mencatat orang banyak mengatakan bahwa Yesus mengajar bukan saja dengan kata-kata tapi juga penuh kuasa.
Gereja dan pewarta firman perlu memperhatikannya. Pemberitaan injil juga perlu memperhatikan kebutuhan dari penerima dan bukan hanya berdasarkan keinginan pemberita saja. Bagaimana pemberita tahu akan kebutuhan jemaat?
Dalam perjalanan pekabaran injilnya ke pulau Kreta, Paulus membawa serta Titus dalam pelayanan itu. Saat mereka sudah ada di Kreta dan Paulus harus melanjutkan perjalanan lagi ke tempat lain, ia meninggalkan Titus di Kreta untuk menata pelayanan di sana.
Maksud meninggalkan Titus di sana adalah dalam rangka Titus tinggal dekat dengan jemaat, menggali pergumulan jemaat untuk memberikan pengajaran yang tepat sesuai kebutuhan jemaat.
Ini artinya, cara mengetahui pergumulan dan kebutuhan jemaat adalah dengan dekat, tinggal dan kunjungi jemaat. Bercakap dengan mereka dan mengamati apa yang mereka kerjakan dan jalani. Atau dengan kata lain menjadi pelayan es-i (bahasa dawan, artinya selalu ada di sisi jemaat).
Selanjutnya, saat memberikan nasehat untuk mengabarkan injil, Paulus juga meminta Titus untuk memperhatikan isi materi dari pemberitaan itu, yakni keseimbangan antara pemberitaan verbal dan aksi agar berjalan bersama-sama, sebab hal itu akan menjadi kekuatan untuk mempengaruhi kognitif, afektif dan psikomotorik dari semua yang mendengarkannya.
Sebagai contoh misalnya, katakanlah kita menyampaikan injil dalam tema keadilan, yang memperlakukan orang tanpa melihat siapa dia dan keberadaannya secara sosial dan ekonomi lewat rumusan pemberitaan verbal yang indah dan memuaskan tapi tidak berimbang saat aksi karena tidak berjalan seperti yang disampaikan, maka bukan saja menciptakan chaos, tetapi kredibilitas pemberitaan itu juga dipertanyakan bahkan bisa menyebabkan penolakan.
Kata “tetapi” di ayat 1 sebagai yang memulai pasal 2 itu pesannya adalah kalau kelompok lain di pasal 1 mempraktekkan pemberitaan verbal yang luar biasa dalam rangkaian kata yang indah dan memukau, memuaskan kognitif pendengar, dan gagal dalam praktek, maka hamba Tuhan yang menerima nasehat ini harus berbeda dengan yang sebelumnya, berbeda karena antara kata dan aksi berjalan beriringan.
Atau contoh kedua bisa juga seperti ini. Pemberita injil itu adalah pemberita kebenaran. Kata-kata dan isi berita mereka itu adalah isi berita tentang kebenaran. Kebenaran itu adalah kebenaran yang didasarkan pada kehendak Tuhan dan bukan kehendak diri, kelompok, golongan tertentu saja karena tujuan-tujuan mereka.
Karena kebenaran itu adalah kebenaran berdasarkan kehendak Tuhan, maka isi yang diminta Paulus (ayat 7-8), haruslah isi yang dari pemberitaan yang benar bukan direkayasa dan berdasarkan praduga tanpa pernah ada konfirmasi. Bukan pemberitaan karena dengar kata orang. Bukan pemberitaan yang isinya negatif tentang orang, tentang sesuatu hal yang bukan kebenaran berdasarkan kehendak Allah.
Pemberitaan seperti itu jangan sampai keluar dan disampaikan oleh para pemberita injil karena kalau yang seperti itu disampaikan sebagai isi pemberitaan injil, maka dapat menimbulkan respon penolakan dan dapat pula terjadi pemberita itu juga dipermalukan, yang dampaknya adalah penolakan pada injil Kristus.
Point ini, menurut saya menjadi penting untuk diperhatikan kita, baik sebagai pribadi maupun sebagai lembaga gereja.
Karena itu, hal memperhatikan kebutuhan penerima dan menjaga keseimbangan antara isi dan aksi yang dimintakan Paulus menjadi penting untuk diperhatikan. Dan Paulus dalam bacaan ini meminta kita, sebagai lembaga dan pribadi yang secara sosial mendapatkan peran dari budaya dan masyarakat untuk menjadi rujukan dalam meneladani, menjadi perlu untuk menjadi pemberita, pemimpin atau pun dalam bahasa surat Titus, pengatur rumah Allah yang berintegritas, melalui 3 cara, yaitu:
Pertama memberitakan injil untuk menjawab kebutuhan jemaat berdasarkan kehendak Allah.
Keduamenjaga keseimbangan antara kata dan perbuatan, dimana keteladanan hidup kudus dan suci sesuai kehendak Tuhan itu menjadi hal yang utama ditunjukkan.
Ketiga menjaga kemurnian isi pemberitaan agar bukan untuk melayani tujuan pribadi, kelompok atau golongan, melainkan untuk kemuliaan nama Tuhan.
Menjadi teladan yang baik dalam kehidupan bersama dengan orang lain harus menjadi hal penting yang dilakukan oleh kita. Kehidupan kita haruslan menjadi pengajaran dalam keteladanan. Selamat menjadi teladan yang baik dalam kata dan perbuatan.
Tuhan memberkati kita. Amin