Jauhkan Kami dari Kecurangan dan Kebohongan

Pdt. Yaksih A.N. Tnunai
Nats Pembimbing: Amsal 15:27
Pembacaan Alkitab : Amsal 30:7-9
Syalom!
Membaca permintaan Agur bin Yake dari Masa kepada Tuhan sebelum ia mati adalah sebuah hal yang menarik. Mengapa? Karena ini permintaan yang tidak lazim. Lebih khusus pada ayat 8-9 tentang kekayaan dan kemiskinan.
Manusia selalu menghindari yang namanya kemiskinan sebab hidup dalam kemiskinan selalu dipandang sebagai kehidupan yang tidak menyenangkan, penuh penderitaan baik fisik maupun batin. Dan karena alasan tidak mau hidup miskin inilah, maka manusia selalu berusaha dengan bekerja siang dan malam.
Karena menolak miskin, maka manusia berlomba-lomba untuk memiliki kekayaan atau hidup serba memiliki dengan menjadi “maniak kerja atau gila kerja”, kerja tanpa kenal waktu istirahat.
Saya ingat ada sebuah lagu semasa sekolah minggu, “apa yang dicari orang uang..dst” Ini adalah penggalan lagu tentang mereka yang maniak kerja sampai lupa Tuhan.
Alkitab juga memiliki cerita tentang hal itu. Cerita injil dalam Lukas 12:13-21 menuliskan itu bagi kita tentang orang kaya yang bodoh. Ia bekerja keras mengumpulkan harta karena ia sendiri menolak hidup miskin.
Ketika banyak orang bersepakat tidak mau hidup miskin, dan memilih hidup berkelimpahan, Agur bin Yake dari Masa menuliskan permohonannya kepada Tuhan yang berbeda dengan kerinduan dan pilihan banyak orang. Ia sepakat dengan banyak orang untuk tidak mau hidup miskin, tetapi menolak hidup dalam kekayaan.
Mari kita dengar perkataannya,
“Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan”
Dan sebagai gantinya, ia meminta,
“biarkan aku menikmati makanan yang menjadi bagianku”
Kalau penggalan ayat ini kita renungkan, maka yang dimita oleh Agur bin Yake dari Masa ini adalah kehidupan dalam kesederhanaan, menikmati apa yang menjadi haknya dari kerja yang ia lakukan.
Permintaan ini nampaknya didorong oleh prinsip hidup yang dipunyai Agur bin Yake dari Masa. Kedua prinsip itu tergambar pada ayat 8 dan 9, yaitu tidak mau hidup dalam kebohongan dan kecurangan serta tidak mau mencuri dan mencemarkan nama Allah yang disembahnya.
Prinsip hidup yang dipunyai oleh Agur bin Yake dari Masa ini adalah yang unik dari yang dipunyai kebanyakan orang. Di manakah keunikannya? Mari kita perhatikan apa yang terjadi di masa hidup kita.
Kemarin di negara kita terjadi aksi demo di beberapa kota selain Jakarta. Aksi demo rakyat dan mahasiswa itu ditenggarai dipicu oleh aksi beberapa anggota DPR RI yang joget saat sidang. Ada yang mengatakan bahwa aksi itu adalah luapan kesenangan mereka karena kenaikan tunjangan dan gaji yang hampir 100 per-bulan. Aksi ini dikecam banyak pihak karena di saat bersamaan kondisi ekonomi rakyat sedang tidak baik-baik saja.
Ada yang menafsirkan aksi itu sebagai kesenangan anggota DPR RI di atas penderitaan rakyat. Benar atau tidaknya video itu, rakyat sudah terlanjur percaya bahwa itulah sikap anggota DPR RI di tengah penderitaan rakyat. Reaksi itu berdampak pada penjarahan rumah sejumlah anggota DPR RI dan pejabat tinggi negara serta penonaktifan sejumlah anggota DPR RI oleh partai politik pengusungnya.
Demikian juga ada aksi anak seorang pejabat tinggi pusat yang menyatakan 4 ciri orang miskin yang terkesan merendahkan “orang miskin” sambil ia mempertontonkan kartu ATM premium miliknya, yaitu kartu khusus untuk nasabah dengan jumlah rekening yang besar. Bahkan kemarin di Gorontalo ada seorang anggota DPRD yang memposting video yang isinya mengatakan bahwa ia ingin menghabiskan uang negara sampai negara miskin untuk kesenangannya.
Ada juga banyak contoh orang kepingin kaya lalu menggunakan berbagai cara bahkan cara yang berlawanan dengan hukum sekalipun.
Singkatnya, permohonan Agus bin Yake dari Masa ini sangat kontradiktif dengan gaya hidup masa kini yang mengagungkan dan mendambakan kemewahan dan kekayaan.
Tahun 2022 kemarin ada seorang pejabat tinggi negara yang dicopot dari jabatannya karena keluarganya memposting kekayaan mereka ke media sosial dalam kesan membanggakan.
Si Agur bin Yake dari Masa memohon kepada Tuhan agar ia tidak berlaku curang dan bohong, tidak miskin tapi juga tidak kaya, dan mau makan dari apa yang menjadi bagiannya.
Apa yang diperlihatkan si Agur bin Yake dari Masa ini adalah gambaran hidup dalam kejujuran dan kesederhanaan. Mengapa gambaran ini yang dipilihnya?
Agur bin Yake dari Masa oleh beberapa ahli PL disebutkan sebagai seorang yang berhikmat, yang hidup semasa dengan raja Salomo. Namun, dalam Avot Derabbi Natan 39, yaitu suatu tulisan berbahasa Ibrani, menyebutkan bahwa Agur bin Yake ini adalah nama lain dari Salomo.
Dalam tulisan itu disebutkan bahwa anak bungsu Daud itu memiliki sebutan 5 nama lain, selain Salomo, yaitu Yedida, Kohelet, Ben Yake, Agur dan Lemuel.
Artinya kalau kita ikut tulisan Avot Derabbi Natan 39 ini, maka Agur ben Yake, yang berarti seorang pengumpul (Agur), yang adalah anak dari seorang yang patuh dan tidak bersalah (ben Yake), adalah Salomo sendiri, yang adalah Raja Israel, anak Daud.
Kalau melihat pada I Raja 10:14-29, yang memberikan informasi tentang penghasilan dan kekayaan Salomo, maka Agur dan ben Yake ini adalah orang yang kaya pada masa itu. Kekayaannya tiada banding. Dan tentu saja kekayaannya ini hal yang biasa sebab dia adalah raja dari negeri yang makmur pada masa itu, dan mewarisi kekayaan dari ayahnya, Daud yang juga seorang yang kaya.
Agur bin Yake ini seorang yang kaya, tapi pertanyaannya adalah kenapa sebagai seorang yang kaya ia justru meminta Tuhan agar menjadikan dia hidup dalam kesederhanaan dan kejujuran?
Tadi kita sudah menyebutkan bahwa permintaannya ini ada hubungannya dengan prinsip hidup yang dimilikinya, yakni kejujuran dan kesederhanaan. Tapi selain itu, permintaannya agar Tuhan segera menjadikannya hidup dalam kejujuran dan kesederhanaan sebelum ia mati adalah karena kecurangan, kebohongan dan praktek hidup mewah dan pamer kekayaan itu telah menjadi praktek yang terjadi dimana-mana dan banyak dilakukan oleh para pejabat dan orang kaya.
Kecurangan, kebohongan telah menjadi sifat dan praktek hidup yang ternyata dilakukan dalam rangka menghindari kemiskinan dan pendertiaan sebab mereka beranggapan bahwa kekayaan adalah jalan untuk mendapatkan kesenangan dan ketenangan hidup.
Raja-raja dan kerajaan-kerajaan yang ada di sekitar Salomo, yang gemar berperang untuk memperluas daerah kekuasaan melakukan hal itu karena ingin menguasai kekayaan bangsa lain agar menguasai kekayaan mereka dan menjadi kaya serta mau menindas orang yang kehilangan kekayaan agar menjadi budak mereka.
Ketika kemenangan dalam perang diperoleh dan kekuasaan didapatkan, banyak juga para pejabat yang memperkaya diri melalui kecurangan dan kebohongan. Dan praktek ini merajalela di antara para pemimpin, yang notabene pada masa itu dijadikan rujukan untuk dicontohi rakyat kebanyakan.
Gaya hidup seperti ini akahirnya menghipnotis rakyat untuk melakukan praktek seperti itu dalam kehidupan, dimana akhirnya untuk mendapatkan kekayaan mereka memilih jalan pintas, bukan dengan bekerja keras untuk menghasilkan sesuatu bagi kehidupan mereka, melainkan bekerja dalam kecurangan dan kebohongan.
Keadaan seperti itu akhirnya membuat ketidakadilan dalam hidup dan memecah belah kekeluargaan dan persekutuan hidup sebagai anak bangsa, sebab yang miskin tambah miskin dan yang kaya semakin kaya.
Apakah ini berarti Agur bin Yake tidak menghendaki kekayaan? Apakah kekayaan itu sesuatu yang salah dan dosa?
Jawabannya tidak. Tidak ada larangan bagi seseorang untuk menjadi kaya. Tidak ada larangan bagi seseorang jika karena kerjanya ia memiliki harta melimpah atau mendapatkan warisan orang tua yang kaya sehingga ia menjadi kaya. Tidak! Yang hendak dikatakan Salomo di sini adalah bagaimana proses menjadi kaya dan sikap hidup setelah kekayaan itu dimiliki.
Dua permintaan yang disampaikan Salomo dalam doanya ini menggambarkan bahwa yang ia tolak adalah menjadikan kecurangan dan kebohongan untuk menjadi kaya.
Kekayaan yang didapat melalui kecurangan dan kebohongan, yang kemudian di ayat 9 ditambahkan dengan mencuri adalah cara jahat dan berdosa karena di dalamnya mereka yang melakukan itu sesungguhnya sedang menutup kesempatan sesama dan saudaranya untuk berhasil, untuk memperoleh apa yang dirindukannya.
Kekayaan yang didapatkan dengan cara curang dan bohong serta mencuri itu adalah perbuatan sadis yang menghancurkan harapan sesama dan mempersulit kehidupan sesama di kini dan di masa depan. Tindakan itu masuk dalam kategori tindakan yang serakah.
Kekayaan yang didapatkan dalam curang dan bohong serta mencuri akan menghasilkan kemarahan massa yang berujung pada kehancuran dan pertikaian massal sehingga hilang damai dan ketenangan dalam menjalani hidup. Contoh tentang motif demo kemarin yang berujung anarkis adalah salah satu buktinya.
Pertanyaannya adalah seperti apakah bentuk memperoleh kekayaan dalam kecurangan dan kebodohan serta mencuri itu?
KKN, Pemerasan atau pungli dalam bentuk apapun dengan tujuan mendapatkan keuntungan adalah bentuknya. Selain itu, judi, manipulasi kuitansi, data dan laporan, manipulasi kepercayaan dan jabatan, kekuasaan dan kewenangan dalam rangka meraih keuntungan juga merupakan bentuk dari kecurangan dan kebohongan serta mencuri untuk memperkaya diri.
Cara-cara seperti ini bukannya membangun tapi merusak mental dan iman. Merusak kehidupan bersama dengan orang lain. Mereka yang gemar melakukan praktek kecurangan dan kebohongan serta mencuri untuk menjadi kaya, melakukannya dengan cara panas atau kerja panas.
Saya kira istilah cara panas atau kerja panas ini adalah istilah yang memiliki makna. Saya ingat dulu, suatu waktu ikut acara peminangan. Dalam acara itu ada petuah dan nasehat dari orang tua ke calon mempelai.
Sewaktu memberikan nasehat, ada seorang tua yang menitip pesan kepada calon mempelai untuk menghindari cara panas atau bekerja panas dalam rangka membangun rumah tangga. Ia mengatakan jangan bawa barang panas dan hasil dari kerja panas ke dalam rumah untuk dinikmati bersama seisi rumahnya.
Cara panas adalah cara yang bertentangan dengan aturan hukum negara maupun iman dengan akibatnya adalah mendatangkan penderitaan bagi orang lain. Cara panas itu adalah kerja dengan cara curang dan bohong serta mencuri.
Kalau ada orang yang bekerja dengan cara itu lalu ia mendapatkan sesuatu, yang kemudian dibawanya masuk ke dalam rumah, dimana di dalam rumah itu ada keluarga dan orang-orang yang dikasihi dan yang mengasihinya tinggal, maka barang panas yang ia bawa masuk itu akan menyebabkan suasana hidup menjadi panas, semua yang tinggal di dalamnya mengalami hidup dalam suasana panas sehingga berbagai tindakan dosa, buruk dan kemalangan akan ada di dalam rumah itu. Mengapa?
Karena yang dibawa ke dalam rumah itu didapatkan dengan cara panas, yakni cara yang dilarang Allah, sebab masuk dalam kategori perbuatan dosa. Bekerja dengan dengan cara panas bagi orang percaya akan menjadi suatu kesaksian yang dilihat orang lain sebagai sebuah kesaksian yang menyebabkan nama Tuhan dicemari, dihina dan diolok-olok.
Karena perkataan dalam ayat 7-9 ini berasal dari Salomo sendiri, maka perkataan ini menjadi sebuah wejangan untuk diperhatikan, yaitu bahwa kalau seseorang meminta kepada Tuhan agar hidupnya tidak menjadi miskin, dimana saat ia bekerja dengan tidak curang dan tidak bohong, apalagi mencuri, maka aktivitas dan hasil yang ia peroleh tidak akan membuat ia menjadi miskin dan menderita.
Selanjutnya, kalau kecurangan, kebohongan dan hal mencuri bukan menjadi cara ia meraih keuntungan dan memperoleh kekayaan, maka ia akan menikmati bagian yang menjadi haknya dengan gembira dan sukacita.
Kemudian jika seseorang karena tidak hidup dalam kecurangan, kebohongan dan mencuri sehingga dia diberkati dengan kelimpahan, lalu menjadikan kelimpahan yang ada padanya dengan tidak menindas, merendahkan orang lain, tetapi ia mau berbagi kasih Tuhan dengan sesama melalui hidup dan apa yang ada padanya, maka kemurahatiannya itu akan menyebabkan ia tidak berkekurangan sebab orang yang memberi akan berkelimpahan
Orang yang menjalani kehidupan dalam kemurahan hati juga akan mendapatkan kemurahan dari berbagai macam orang. Keberadaanya akan diterima dimanapun ia berada dan yang terpenting dari semua itu adalah ia tidak akan mencemarkan nama Allah, melainkan membuat Allah dimuliakan.
Jadi perkataan Agur bin Yake dari Masa adalah sebuah pelajaran bahwa hidup dalam kecurangan, kebohongan dan mencuri untuk menjadi kaya adalah tindakan dosa yang akan menyebabkan nama Allah dicemarkan.
Agur bin Yake dari Masa mengajarkan kita hidup dalam kesederhanaan melalui kepatuhan pada hukum dan kasih pada sesama dengan apa yang kita miliki dan menghormati Tuhan melalui perilaku hidup kita.
Agur bin Yake dari Masa, yang tidak lain adalah Salomo melalui permohonannya itu mengajarkan kepada kita kehidupan dalam kejujuran, kepatuhan dan kesederhanaan, yang dilakukan dalam kemurahan hati sebagai kesaksian hidup untuk mempermuliakan nama Tuhan.
Hari ini bacaan kita oleh MS. GMIT diberi tema mawas diri dari perjudian. Memang bacaan ini tidak menyebutkan kata perjudian atau judi, tetapi dalam praktek hidup, karena ingin cepat kaya, banyak orang yang memilih berjudi.
Hal berjudi itu adalah kegiatan yang beresiko sebab mengandalkan keberuntungan semata, dimana itu sesuatu yang tidak tepat dan pasti, padahal untuk itu sudah ada banyak sumber daya yang dipakai, seperti uang, pikiran, waktu dan tenaga.
Berjudi juga menyebabkan banyak dampak negatif, baik pada diri, yaitu ketergantungan dan kemalasan, pada keluarga seperti tidak ada kepastian untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan masa depan. Dalam banyak kasus berjudi lebih banyak membuat pelaku hidup dalam ketidakpastian dan menderita, sehingga akhirnya kemungkinan untuk curang, bohong dan mencuri itu jadi pilihan utama.
Karenanya, walaupun Agur ben Yake, yang berarti si pengumpul, yang patuh dan jujur ini tidak menulis secara eksplisit dalam bacaan ini tentang judi, namun sadarilah bahwa judi tidak membawa hidup jauh lebih baik di masa depan. Ia justru akan membentuk hidup dalam ketidakpastian, kemalasan dan penderitaan dan yang paling tidak baik dari judi adalah dianggap perbuatan dosa oleh Tuhan.
Berjudi dalam berbagai budaya juga masuk dalam kategori kerja dengan cara panas, yang kalau digunakan untuk hidup dan keluarga justru akan membawa pada penderitaan hidup.
Tuhan menolong kita.