Buku yang Bikin Bingung

Bayangkan Anda mempunyai beberapa puluh buku yang dideretkan di rak. Buku-buku itu terdiri dari berbagai ragam terbitan dari berbagai zaman.
Di situ ada buku pembelaan HAM korban kerusuhan Jakarta Mei 1998. Juga ada buku undang-undang perkawinan dari zaman VOC atau Kompeni Hindia Belanda. Lalu, di sebelahnya ada buku puisi terbitan abad ke-12. Kemudian ada buku tentang seorang pahlawan dari zaman kerajaan Majapahit. Ada pula buku nyanyian asmara dari abad ke-10. Ada juga buku silsilah para bangsawan tahun 1300. Ada buku kumpulan khotbah dari tahun 1500. Pokoknya, isinya macam-macam.
Agar buku-buku tipis itu jangan tercecer, Anda pergi ke tukang jilid dan minta buku itu dibundel menjadi satu. Puluhan buku tipis itu pun berubah meniadi satu buku setebal 1.600 halaman.
Seorang sahabat Anda membaca buku itu terheran heran Buku apa ini? Aneh betul, Isinya segala macam. Sungguh membingungkan.
Itulah hakihat Akitab. AIkitab adalah sekian puluh kitab dari zaman yang berbeda-beda yang dibundel menjadi satu jilid. Kitab yang tertua agaknya ditulis pada zaman Raja Daud, yaitu tahun 1000 SM dan kilab yang termuda ditulis sekitar tahun 140 M. Jadi, proses penulisan bundel Alkitab memakan waktu sekitar seribu tahun.
Bundel bernama Alkitab ini terdiri dari banyak kitab, yaknı 66 kitab dalam Protokanonik atau 76 kitab dalam Deuterokanonik. Penulisnya juga banyak, terdiri dari sekian puluh orang dan sekian puluh tim yang sangat berbeda satu sama lain. Para penulis Alkitab terdiri atas rupa-rupa profesi: guru, sastrawan, teolog, raja, petani, orang buangan, imam, nelayan, nabi, dan filsuf. Mereka hidup dalam budaya Kanaan, Palestina, Yahudi, Mesir, Mesopotamia, Persia, Hellenis, dan Roma.
Bahkan, dalam satu kitab pun penulisnya berbeda-beda. Kitab Kejadian 1 ditulis oleh tim yang ingin mengangkat martabat umat yang sedang terpuruk dengan menulis bahwa manusia diciptakan “menurut gambar dan rupa” Allah (1:26). Sedangkan Kejadan 2 ditulis sekitar empat abad sebelumnya (bukan sesudahnya, melaınkan sebelumnya!) oleh tim yang mau menegur umat yang sedang jaya agar tidak besar kepala dengan mencatat bahwa manusia diciptakan cuma dari “debu tanah” (2:7). Lalu, tulisan dari dua tim berbeda itu diedit oleh tim lain sekitar dua abad kemudian sehingga menjadi cerita Kejadian yang sekarang.
Cerita yang sama dalam kitab yang sama berasal dari penulis yang berbeda zaman. Apalagi cerita yang berbeda satu sama lain. Isi Alkitab bukanlah tentang sebuah zaman, melainkan tentang puluhan zaman mulai dari konteks Terah yang berpakaian kulit kambing dan tinggal di goa batu karang pedalaman Babilon sampai ke konteks Konsul Felix yang berpakaian sutra impor darı Tiongkok dan tinggal di gedung berarsitektur Romanesque di kota Kaisarea.
Ragam sastra kitab-kitab dalam bundel Alkitab juga berbeda. Ada laporan, ada nyanyian, ada cerita, ada surat pribadi, ada kumpulan kata-kata Mutiara, ada peraturan kepemılikan tanah, ada puisi dan rupa-rupa.
Apa bundel bernama Alkitab ini religious atau sekuler? Kitab religious ada, misalnya Mazmur. Sebaliknya, yang sekuler juga ada, misalnya Kitab Ester. Sungguh berbeda satu sama lain, Kadang-kadang membingungkan.
Pandangannya juga berbeda. Kitab Ezra dan Nehemia berjiwa nasionalis. Sebaliknya, Kitab Rut dan Yunus menertawakan nasionalisme sempit itu. Ada pandangan konservatif para imam dalam Kitab Keluaran dan Imamat, sebaliknya ada pandangan liberal para nabi dalam Amos dan Deutero-Yesaya. Sulit dimengeti.
Lebih membingungkan bahwa dalam Alkitab terdapat perintah-perintah Allah yang kejam. Tertulis, “Beginilah firman TUHAN … kalahkan orang Amalek, tumpaslah segala yang ada padanya, dan janganlah ada belas kasihan kepadanya. Bunuhlah semuanya, laki-laki maupun perempuan, kanak-kanak maupun anak-anak yang menyusu…” (I Sam 15:3). Sungguh kejam dan tidak berperi kemanusiaan. Padahal dalam bundle itu juga tertulis, “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Im 19:18). Membingungkan!
Seorang guru sekolah teologi yang selama puluhan tahun tiap hari membaca buku temuan mutakhir ilmu biblika pun merasa bingung. Kian cermat kita mendalami Alkitab kian banyak timbul pertanyaan. Alkitab adalah antologi atau kumpulan tulisan yang berasal dari budaya yang tidak kita kenal dan berada puluhan abad di belakang kita. Tidak mungkin kita mengerti Alkitab seutuhnya. Dulu, ketika baru lulus sekolah teologi, saya merasa tahu banyak tentang Alkitab. Tetapi puluhan tahun kemudian, ketika mengajar di sekolah teologi dan menulis buku, saya merasa sebaliknya, yaitu bukan tahu banyak melainkan tidak tahu banyak, bahkan juga banyak tidak tahu.
Oleh sebab itu, aneh juga kalau ada pendeta yang merasa begitu yakin bahwa ia tahu isi Alkitab. Ada pendeta muda yang di atas mimbar dengan tangan satu memegang Alkitab terbuka dan tangan lainnya diacung-acungkan sembari berkata dengan suara menggelegar, “Mengapa kelima kitab Taurat disebut kitab-kitab Musa? Karera kelima kitab itu ditulis sendiri oleh tangan Musa, hamba Tuhan yang setia. Tidak ada satu huruf dalam kitab-kitab Musa yang bukan tulisan Musa!” Ah, yang betul saja. Bukankah Ulangan 34 memuat laporan kematian Musa? Mana ada orang yang bisa melaporkan kematiannya sendiri? Memang betul namanya kitab-kitab Musa, tetapi penulisnya bukan Musa.
Sungguh picik bila kita menganggap diri mengerti Alkitab. Tanpa memeriksa latar belakang sejarah, sastra, dan budaya para pengarang Alkitab, mustahil kita memahami mereka. Pertanyaan pertama bukanlah apa arti ayat ini bagiku, melainkan apa sebab dan tujuan pengarang menulis ayat ini dan untuk siapa?
Meskipun kita sudah puluhan kali membaca Alkitab dari depan ke belakang, bolak balik, apakah kita sudah betul-betul mengerti is Alkitab? Alkitab adalah buku yang susah dan bisa bikin kita bingung. Mengertikah kita apa yang kita baca? Lebih baik kita membuka diri untuk mau belajar sambil menjawab, “Bagaimanakah aku dapat mengerti, kalau tidak ada yang membimbing aku?” (Kis. 8:31).
(Sumber: Andar Ismail, Selamat Berpelita: 33 Renungan tentang Alkitab, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2013: 1-4)