Di Dalam Dunia, Ada Dua Jalan

Nats Pembimbing: Zakharia 8:7-8
Pembacaan Alkitab: Zakharia 8:1-13
Putus asa, kecewa, stress adalah hal-hal yang sering dialami manusia dalam kehidupannya. Penyebabnya bisa beraneka ragam. Bagi orang muda penyebabnya bisa karena putus cinta, gagal dalam meraih cita-cita, ditinggal mati orang tua, karena kecelakaan dan lain-lainnya.
Bagi orang tua bisa disebabkan karena gagal dalam usaha, bangkrut, ditinggal mati pasangan, karena peperangan dan bencana, dikhianati keluarga, pasangan dan lain sebagainya.
Putus asa, kecewa, stress dan sejenisnya dapat menyebabkan hilangnya motivasi, kehancuran, penarikan diri dari pergaulan, keinginan untuk maju dan berusaha sampai pada depresi, ODGJ bahkan dengan mengakhiri hidup sendiri. Kita bisa menemukannya dalam kehidupan kita atau bahkan rasa itu juga pernah kita alami dalam hidup walau tidak sampai pada jadi ODGJ, depresi atau mengakhiri hidup sendiri.
Zakharia yang bernubuat tentang rencana Allah bagi Yehuda (+ 520-518 SM) untuk pemulihan mereka, datang dan menyampaikan nubuat itu bagi Yehuda bahwa Allah dalam rencana dan kehendakNya akan kembali memulihkan mereka.
Pemulihan itu ditandai dengan Allah akan kembali berada di Sion, dan akan diam di tengah-tengah Yehuda, di mana di Yehuda serta Yerusalem, kakek dan nenek akan duduk di jalan-jalan kota Yerusalem dengan tongkat mereka dan anak-anak lelaki dan perempuan akan bermain di sana (ayat 4-5), pohon anggur memberi buah, tanah memberi hasil dan langit memberi air embun (ayat 12), di mana Allah akan menyelamatkan umatNya (ayat 7-8).
Kakek, nenek, anak lelaki dan perempuan akan duduk dan bermain di jalan-jalan kota Yerusalem, pohon anggur memberi buah, tanah memberi hasil dan langit memberi air embun adalah gambaran tentang kedamaian, kemakmuran dan kegembiran yang akan Allah lakukan terjadi di Yerusalem.
Keadaan ini berlangsung karena penduduk kota Yerusalem yang terbuang ke Babel itu akan segera kembali ke kota kelahiran mereka, sehingga putus asa, kecewa, stress yang dulunya terjadi karena pembuangan segera berlalu berganti dengan damai, sukacita, kemakmuran dan harapan hidup baru yang bahagia.
Harapan hidup baru yang bahagia ini adalah pemulihan yang akan Tuhan lakukan pada Yehuda dan Yerusalem karena Tuhan tidak lagi murka dan mau mulihkan mereka sebagaimana Ia juga berjanji untuk itu.
Bagian ini sedang menjelaskan kepada kita bahwa Tuhan dalam kedaulatanNya memiliki kekuasaan mutlak atas kehidupan kita. Dalam kekuasaan mutlakNya itu, Tuhan mengontrol kehidupan kita, yang didasarkan pada rencana yang telah Ia siapkan untuk manusia, dimana rencana itu berisikan rencana damai sejahtera dan bukan kecelakaan.
Kata menyelamatkan dalam ayat 7, menunjukkan tentang intervensi Tuhan, yaitu suatu tindakan dari Tuhan yang menyebabkan manusia yang seharusnya binasa dan hancur karena perilakunya, tidak jadi mengalami itu karena Tuhan yang menolong mereka.
Kata menyelamatkan itu memiliki arti yang ada hubungannya dengan rencana Tuhan dan sikap yang manusia tunjukkan, yang akan sangat berdampak pada rencana Tuhan dan apa yang akan dialami manusia dalam hidupnya.
Maksudnya begini: Tuhan itu punya rencana bagi hidup dan masa depan manusia yang diciptakanNya dalam rencana damai sejahtera dan bukan kecelakaan. Untuk rencana itu, maka manusia sejak Tuhan menaruh dia di bumi, disiapkan agar rencana Tuhan baginya bisa terjadi.
Saat rencana Tuhan itu mulai dilaksanakan, manusia yang Tuhan siapkan itu terkadang karena keinginannya, menyela atau melakukan sebuah tindakan, intervensi berdasarkan pikir, kata dan perbuatannya pada rencana Tuhan dengan keinginannya.
Intervensi dan tindakan manusia itu menyebabkan terjadi penyimpangan dari rencana Tuhan, dimana dalam penyimpangan itu, manusia yang seharusnya aman dalam rencana Tuhan menjadi tidak nyaman. Menjadi menderita dan keluar dari jalur rencana Tuhan, dan karena itu, sekali lagi menderita dan terancam kematian.
Pada saat itu terjadi, Tuhan yang punya rencana damai sejahtera pada manusia itu dapat bertindak dengan membiarkan manusia yang suka keluar jalur itu untuk mengalami hal kurang menyenangkan dalam hidup sebagai pengalaman dan pelajaran baginya atau bertindak untuk tarik kembali manusia ada di jalur rencana Tuhan.
Artinya, kalau manusia alami sesuatu yang kurang menyenangkan dalam hidup, maka itu bukan karena Tuhan punya andil, melainkan karena manusia yang tidak mau memberi diri ikuti rencana Tuhan baginya.
Tadi disebutkan bahwa ayat 4-5,12 dalam gambaran kakek, nenek, anak laki-laki dan perempuan, pohon anggur, tanah dan langit adalah gambaran pemulihan Yehuda, di mana mereka akan dikembalikan Tuhan dari Babel untuk hidup di Yerusalem, rumah dan negeri mereka sendiri.
Rencana Tuhan mengembalikan Yehuda dari Babel ke Yerusalem itu, dikatakan sebagai rencana penyelamatan Tuhan atas Yehuda. Dan dari makna menyelamatkan yang sudah kita lihat tadi, maka hal menyelamatkan Yehuda oleh Tuhan itu harus kita pahami sesuai makna rencana Tuhan.
Artinya begini, yang buat Yehuda ada di Babel itu bukan Tuhan, tetapi Yehuda sendiri. Kenapa demikian? Karena Yehuda memilih tidak jalan ikut kehendak dan rencana Tuhan untuk damai sejahtera atas mereka, dengan memilih meninggalkan Tuhan dan atau menduakan Tuhan dengan ilah bangsa Kanaan.
Dan karena pilihan itu, maka mereka kehilangan perlindungan Tuhan, sebab pilihan itu menyebabkan Tuhan murka dan membiarkan mereka mengalami kehidupan di luar jalur damai sejahtera, yaitu pembuangan di Babel.
Harusnya, karena Yehuda menduakan Tuhan, mereka mati dan binasa, tetapi oleh Tuhan yang punya rencana damai sejahtera atas mereka, memberi kesempatan bagi Yehuda belajar dari pemberontakan mereka sebagai pengalaman hidup di luar damai sejahtera.
Keadaan itu bukan tanpa maksud. Keadaan itu terjadi untuk Yehuda berefleksi kembali atas pilihan mereka yang menduakan Allah. Dan kita menyebutnya sebagai penghukuman, tetapi sekaligus juga dalam penghukuman ada unsur pengajaran bagi Yehuda. Mengapa?
Sebagaimana disebutkan tadi, kalau manusia mengintervensi rencana Allah dengan menduakannya, Allah bisa saja mengembalikan manusia sesuai rencanaNya atau membiarkan manusia mengalami ketidakdamaian terjadi dalam hidupnya sebagai pengalaman sebelum diselamatkan Allah, kenapa demikian?
Dalam kasus pembuangan Yehuda ke Babel, tindakan itu punya dua makna: pertama untuk pembelajaran bagi mereka bagaimana kalau hidup di luar kehendak Allah supaya jadi pengalaman agar di masa depan tidak dilakukan lagi. Dan kedua adalah Allah mau menjadikan masa di Babel itu sebagai kesempatan bagi mereka belajar dari Babel yang sudah maju pada masa itu untuk kepentingan membangun negeri dan hidup mereka di masa depan.
Babel masa itu punya angkatan perang yang ditakuti, punya ilmu pengetahuan dan teknologi yang maju, punya kemampuan membangun kota yang lebat. Dengan Yehuda tinggal sebagai buangan di sana dan mereka dilibatkan dalam kegiatan dan aktivitas Babel yang maju, maka mereka berkesempatan untuk belajar dan ketika sudah mampu menguasainya, maka Tuhan akan menyelamatkan mereka untuk kembali dalam rencana Tuhan, dengan salah satunya adalam membangun kembali Yerusalem.
Jadi segala kemalangan yang manusia alami dalam hidup, berdasarkan apa yang kita pelajari dari Zakharias ini, itu bukan karena rencana mula-mula Tuhan, melainkan karena manusialah yang melalui pikir, kata dan perbuatannya menyela dari rencana Tuhan untuk lakukan keinginannya.
Kita tidak baca sampai ayat 19, tetapi kalau kita baca ayat 16-17, Tuhan melalui Zakharia tunjukkan bagi kita bahwa hal sela yang kita buat untuk tidak ikuti kehendak dan rencana Tuhan itu adalah kejahatan yang kita tunjukkan, yaitu tidak berjalan dalam kehendak Tuhan.
Jadi kemalangan kita (yang bisa juga berupa putus asa, kecewa, stress) itu adalah akibat dari penyimpangan kita dari rencana Tuhan. Itu bukan dari Tuhan. Dan karena kemalangan itu terjadi karena perbuatan kita, maka kini Tuhan bilang kepada kita bahwa Tuhan mau pulihkan kita, dimana waktunya bagi Yehuda sudah Ia tunjukkan dalam ayat 19.
Waktu pemulihan untuk kita pun juga sudah disiapkan untuk kita, dimana waktu itu baru benar-benar dialami ketika kita juga mulai berkomitmen untuk buat seperti yang dikatakannya di ayat 17.
Jadi Tuhan punya rencana indah dan baik bagi kita, tetapi kalau kita tidak beri diri untuk ikut jalur rencana Tuhan dengan tidak melakukan apa yang disebutkan dalam ayat 17, maka rencana Tuhan akan kita alami, namun kalau akhirnya karena keinginan kita, kita memilih melakukan apa yang dilarang ayat 17, maka itu sama dengan kita menyela, kita pilih keluar dari jalur rencana Tuhan.
Pada saat kita memilih melakukan itu, maka bukan damai sejahtera yang akan kita alami, tetapi bisa putus asa, kecewa, stress (kemalangan) dan berbagai hal tidak enaklah yang harus kita alami.
Karena itu dari bacaan Zakharia, hari ini kita diajarkan bahwa Tuhan punya rencana indah, rencana damai sejahtera bagi kita dan bukan kecelakaan, tetapi rencana itu akan tertunda untuk waktu yang bisa lama atau singkat.
Lama dan singkat itu akan sangat dipengaruhi oleh pilihan dari kita, yaitu pilihan untuk setia ikut di jalur rencana Tuhan atau menyela, keluar dari jalur rencana Tuhan itu.
Pilihannya ada pada kita. Dan supaya selalu ingat akan hal ini, lagu Sekolah Minggu tentang dua jalan di dunia harus sering kita nyanyikan:
Di dalam dunia
Ada dua jalan
Lebar dan sempit,
siapa mau pilih.
Yang lebar bagus jiwamu mati,
yang sempit suci hidup surgawi.
Tuhan menolong kita. Amin.
Puji Tuhan. Shaloom. Tuhan Yesus Baik. AMIN…