Harapan Tentang Negeri yang Penuh Kemakmuran

Oleh: Calon Vikaris Intan Parera, STh[1]
Jemaat Tuhan yang terkasih, Shalom!
Kita masih ada dalam suasana kemerdekaan. Ada yang tahu apa lambang negara kita? Iya burung garuda. Ada satu legenda Nusantara tentang burung garuda. Burung Garuda punya ibu namanya Dewi Winata, dan ibunya ini diperbudak oleh saudarinya karena kalah taruhan. Untuk membebaskan ibunya, garuda harus mencuri air kehidupan yang mustahil diambil karena dijaga ketat oleh dewa-dewa. Tapi demi kasihnya kepada sang ibu, garuda rela berjuang dan ia akhirnya berhasil.
Kisah ini jadi inspirasi Sultan Syarif II, dan idenya diterima bapak-bapak pendiri negara. Mereka merasa perjuangan garuda membebaskan sang ibu sama dengan kisah pembebasan ibu pertiwi dari tangan perbudakan penjajah. Dengan digunakannya simbol burung garuda ini, mereka berharap bangsa ini menjadi bangsa yang besar dan bebas, serta memiliki masa depan yang cerah.
Harapan yang lahir dari penderitaan ini sangat mirip dengan kisah bangsa Israel. Tujuh Puluh tahun lamanya, bangsa Israel hidup sebagai tawanan, dan mereka akhirnya diizinkan pulang untuk menghidupkan kembali kota dan bangun Bait Suci. Rombongan pertama yang pulang jumlahnya sekitar 42.000 jiwa, dan semuanya adalah generasi baru, yang lahir di tanah asing dan belum pernah lihat seperti apa Yerusalem. Sedangkan generasi lama atau orang tua, rata-rata meninggal akibat tekanan di negeri asing.
Mereka yang pulang ini adalah orang-orang yang rindu sekaligus penasaran akan rupa Yerusalem, setelah mendapat cerita yang indah-indah dari orang tua mereka soal tanah air Yerusalem.
Namun apa yang mereka temukan di tanah air tidak sesuai harapan. Yerusalem bukan lagi kota yang megah. Kota itu sudah hancur berantakan; tembok-temboknya roboh dan puing-puing bangunan berserakan di jalan. Lalu di tengah kota Yerusalem nampak Bait Suci yang sudah hampir tidak berbentuk karena terbakar.
Bisa dibayangkan betapa harapan mereka tentang negeri yang makmur hancur karena kenyataan. Tapi mereka sudah memutuskan untuk pulang, dan tidak ada jalan kembali selain berusaha sebaik mungkin untuk bangun hidup di sana.
Tidak hanya sampai di situ, mereka juga tidak punya uang atau pekerjaan bahkan hasil usaha yang bisa ditukar dengan bahan bangunan baru. Mereka harus kumpul batu-batu dan kayu sisa reruntuhan yang dibiarkan 70 tahun. Itu pun jumlahnya terbatas karena lebih banyak yang hancur dan hangus.
Rasa rindu terhadap rumah dan harapan besar untuk hidup baik kemudian memudar, tersisa rasa kecewa, putus asa, dan menyesal karena merasa salah memilih untuk pulang.
Di sinilah Allah mengutus nabi-nabi-Nya, yang salah satunya bernama Zakharia.
Melalui Zakharia, Allah berjanji akan memulihkan kehidupan mereka dan beri beberapa gambaran masa depan kota yang makmur. Pertama, Allah akan hidup di tengah-tengah mereka. Allah akan kembali menjadi Allah mereka (ay. 2-3, 8b). Kedua, kakek-kakek dan nenek-nenek duduk tenang di jalan-jalan kota dan anak-anak bisa bermain dengan aman dan sukacita. Allah memperbaharui janjinya tentang umur panjang dan keturunan yang banyak (ay. 4-5). Ketiga, tidak akan ada lagi perang, karena Allah sendiri yang akan menyelamatkan mereka dari musuh yang datang dari barat (terbenamnya matahari) dan timur (terbitnya matahari). (Ay.7-8a). Keempat, Tuhan akan memulihkan keadaan ekonomi mereka. Pohon anggur dan tanah, dua sumber utama makanan dan minuman, akan menghasilkan panen. Didukung dengan embun sebagai pengganti hujan. (Ay. 10-12). Kelima, Tuhan akan status mereka yang sebelumnya ”negeri terkutuk” diganti menjadi bangsa yang akan menjadi sumber berkat bagi bangsa lain (ay. 13).
Janji ini menegaskan bahwa pemulihan Allah mencakup seluruh aspek kehidupan: bukan hanya spiritual, tetapi juga sosial, ekonomi, dan politik.
Walaupun tampak mustahil bagi manusia, namun bagi Tuhan, tidak ada yang mustahil (ay.6). Selama umat-Nya ingat untuk menguatkan hati saat mendengar Firman-Nya (ay. 9; 13b), serta menjaga hidup dan relasi yang setia dan berkenan pada Tuhan (ay. 8b).
Bapa, mama, basodara,
Sekurang-kurangnya, ada dua pesan yang dapat kita dapatkan dari teks bacaan kita hari ini:
- Janji Allah untuk memulihkan Israel mengundang kita untuk percaya masa depan yang lebih baik juga disediakan Tuhan bagi kita.
Bagi orang-orang Israel saat itu, mimpi tentang Yerusalem yang pulih adalah mustahil. Tetapi Allah menegaskan, yang ajaib di mata manusia, apakah juga ajaib di mata-Nya?. Demikian juga kita hari ini.
Baru-baru ini kita dihebohkan dengan wakil rakyat yang goyang-goyang, tertawa dan bertepuk tangan setelah memutuskan tunjangan rumah 50jt/bulan dengan alasan karena mereka tidak punya rumah jabatan. Tidak hanya sampai di situ, dalam salah satu wawancara, diketahui kalau tunjangan beras mereka 12jt/bulan.
Sementara di sisi lain, masyarakat hidup menderita. Kita hidup dalam ruang kesenjangan yang begitu besar, wakil rakyat hidup dengan perut kenyang, tapi ada yang bekerja keras dari pagi sampai pagi hanya demi bisa beli beras subsidi, yang kualitas berasnya pun tidak seberapa.
Situasi-situasi negeri yang seperti ini mudah buat kita pesimis, putus asa, bahkan hilang harapan di negeri Indonesia ini. Padahal baru minggu kemarin, kita merayakan HUT ke-80 dengan tema: Bersatu Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju.
Tema ini adalah harapan bahwa masa depan Indonesia yang maju akan terwujud. Indonesia emas di tahun 2045 bukanlah mimpi kosong. Meskipun ini terdengar mustahil. Tetapi Tuhan menjanjikan: hanya karena sesuatu mustahil bagi kita, bukan berarti mustahil bagi Tuhan. Ingat bahwa harapan itu datang kepada orang yang setia.
Namun, janji itu tidak berarti kita hanya duduk manis dan tunggu mujizat. Justru di situlah kita diajak untuk berefleksi bahwa janji Allah menuntut kerja nyata. Ini pesan firman yang kedua.
- Janji Allah menuntut kerja nyata
Ayat ke-8, firman menegaskan: “Mereka akan menjadi umat-Ku dan Aku akan menjadi Allah mereka dalam kesetiaan dan kebenaran.” Artinya, hubungan baru ini bukan hubungan asal-asalan. Kalau Allah setia, umat-Nya pun dipanggil setia dan hidup dalam kebenaran. Kalau Allah adil, umat-Nya pun bertanggung jawab menegakkan keadilan dalam kehidupan bersama.
Inilah yang sering jadi tantangan kita sebagai bangsa. Sebagai masyarakat, kita mungkin tidak bisa langsung mengubah keputusan-keputusan yang kita rasa merugikan. Tapi kita bisa memilih untuk hidup benar dan adil di lingkup kita sendiri. Misalnya, tidak ikut-ikutan main suap supaya urusan cepat selesai. Jangan cepat termakan berita hoak. Jangan kita nonton hasil editan AI di tiktok, langsung share di grup keluarga. Ingat untuk Kerjakan apa yang jadi kita punya kewajiban sebagai warga negara, meskipun kita punya hak dipermainkan oleh orang-orang tidak bertanggung jawab.
Karena itu Allah berkata di ayat 9, “Kuatkanlah hatimu, bagi kamu yang mendengar firman ini” (ay. 9). Bangsa Israel hancur karena mereka menolak mendengar suara Tuhan. Bangsa Israel sebelumnya gagal karena mereka menolak mendengar suara Tuhan—mereka menutup telinga, kasih keras hati, dan akhirnya menuai kehancuran (Zak 7:11-13). Kini, generasi yang baru diberi kesempatan untuk belajar dari kesalahan itu.
Kalau sudah dengan Firman Tuhan, jangan tutup telinga, jangan kasih keras hati, tapi lakukan perintah Tuhan mesikpun itu sulit.
Kekasih-kekasih Tuhan!
Harapan tentang negeri yang penuh kemakmuran bukan sekadar janji kosong. Ia adalah janji Allah yang harus dijawab dengan iman dan kerja keras.
Sebagaimana arti nama Zakharia yang berarti “Tuhan mengingat”. Percayalah bahwa Allah kita tidak pernah akan umat-Nya, Dia Tuhan yang selalu mengingat janji-Nya. Ia mengingat doa-doa kita, bahkan Ia mengingat tetesan air mata kita.
Kalau Allah mengingat, maka kita pun harus mengingat juga: Ingat kita adalah umat Allah yang diajak untuk menatap ke depan dengan iman, menguatkan hati untuk kerja-kerja yang benar, serta saling menopang satu sama lain. AMIN
[1] Khotbah pada Kebaktian Utama Jemaat GMIT Rehobot Bakunase pada Jam 17.00 WITA