Homiletika*

Pdt. Yaksih. A. N. Tnunai, STh, MSi[1].
PENDAHULUAN
Khotbah merupakan kegiatan yang rutin dilakukan oleh para pekerja gereja, seperti pendeta, penatua bahkan di beberapa jemaat juga oleh diaken, pengajar pengurus kategorial-fungsional dan juga warga gereja.
Khotbah bagi gereja, merupakan salah satu alat pemberitaan yang gereja pakai untuk menyampaikan kabar baik dari Allah kepada manusia.
Gereja Protestan, memandang khotbah sebagai yang sentral dalam kebaktian jemaat. Hal ini tentu saja dipengaruhi oleh cara pandang gereja protestan tentang apa sebenarnya hakekat khotbah itu.
Sejak Marthin Luther, menyatakan protes kepada gereja pada 1517 tentang ajaran keselamatan yang dijemaatkan saat itu, khotbah menjadi sentral dalam kebaktian jemaat.
Salah satu pernyataan Luther, Sola Scriptura, menunjukkan betapa pentingnya Alkitab sebagai dasar pengajaran gereja. Karena khotbah mempunyai tempat yang sentral dalam gereja, maka pelayanan utama para pendeta dan penatua adalah berkhotbah, yaitu mengabarkan firman Allah.
Segala tugas yang lain seperti katekisassi, sakramen, mempimpin kebaktian, pengembalaan dsb, dilihat sebagai yang punya hubungan dengan pekabaran firman Allah.
Artinya bahwa semua yang dikerjakan dalam pelayanan gereja[2] haruslah dijiwai dan didasarkan pada nilai dan ajaran Allah yang disampaikan dalam Alkitab dan yang diberitakan oleh gereja.
Gereja protestan mengenal 3 bentuk firman, yaitu Pertama: Firman Yang Menjadi Manusia, yang disebut Yesus Kristus, Kedua: Firman Yang Tertulis, yaitu Alkitab dan Ketiga: Firman Yang Diberitakan, yaitu Khotbah. Bagian ketiga dari bentuk firman ini disampaikan oleh pengkhotbah.
de Jong[3] mengatakan ada 4 hal yang mesti diperhatikan oleh seorang pengkhotbah, yaitu: pertama seorang pengkhotbah adalah orang yang dipanggil Majelis Jemaat[4].
Artinya seorang yang diserahi tugas melaksanakan pemberitaan firman oleh MJ karena jabatan yang melekat padanya sebagai pelayan sebagaimana yang diatur dalam Tata GMIT 2010[5].
Simbol pemanggilan ini dirupakan dalam penyerahan Alkitab di bawah mimbar kepada pengkhotbah sebelum melaksanakan tugas berkhotbahnya.
Walau demikian, terkadang dalam pelayanan pemberitaan firman pada jenis kebaktian lain, majelis jemaat juga dapat mempercayakannya kepada warga jemaat yang bukan presbiter yang dianggap cakap untuk melaksanakannya[6].
Kedua,pengkhotbah adalah orang yang terbuka terhadap Allah dan pada sesama. Artinya, mereka yang punya hubungan yang erat dengan Allah dan tidak meninggalkan sesama sebab seorang pengkhotbah menyampaikan perkataan Allah kepada sesama/jemaat dan ia juga mencari jawaban atas pergumulan jemaat di dalam terang firman Allah. Karena itu untuk bisa jalannya pemberitaan dan pergumulan jemaat, maka pengkhotbah mesti terbuka pada Allah dan sesama[7].
Ketiga, pengkhotbah orang bersedia menerima masukan, kritik dan suka belajar dari orang lain. ini ada hubungannya dengan hal kedua dari seorang pengkhotbah tadi.
Keempat, orang yang berkhotbah adalah dia yang menyampaikan kesaksian firman Allah. Artinya, yang disampaikan itu bukan kesaksian dirinya.
Kesaksian diri bisa juga dipakai dalam berkhotbah tetapi kesaksian itu harus tunduk dan jangan menggantikan peran utama kesaksian Allah dalam firmanNya.[8]Mengingat pentingnya khotbah, maka sebelum kita sampai pada bagaimana kita mempersiapkan sebuah khotbah. Kami ingin bersama-sama kita samakan pemahaman kita tentang khotbah itu sendiri melalui pertanyaan: Apakah Khotbah itu sebenarnya?
PENGERTIAN, TUJUAN DAN FUNGSI KHOTBAH
Pengertian Khotbah
Menurut akar kata/asal muasal kata, Khotbah berasal dari kata Yunani, Homilia/Homili, yang berarti suatu percakapan atau suatu ceramah. Sedangkan Homiletika itu sendiri adalah Ilmu pengetahuan atau ketrampilan dalam hal Homilia.[9]
Para pemberita Injil mula-mula menyebut ceramah kepada orang banyak dengan sebutan Percakapan.Orang Indonesia menyebut Homilia ini dengan nama Khotbah yang merupakan sebuah kata yang berasal dari bahasa Arab.
Dari pengertian ini, maka khotbah pertama-tama adalah percakapan pengkhotbah dengan firman Tuhan, yang kemudian percakapan ini diteruskan oleh pengkhotbah kepada pendengar. Karena itu, maka khotbah itu bersifat dialogis.
Pengertian ini memunculkan dua unsur penting dalam khotbah, yaitu unsur Berita (Firman Tuhan) dan manusia, yang terdiri atas pengkhotbah, yaitu manusia yang dipakai Allah untuk menjadi penyampai FirmanNya, yang berisikan injil atau kabar sukacita dan unsur kedua adalah manusia lain yang mendengarkan isi pemberitaan itu (bdk. I Petrus 1:9).
Dari arti ini khotbah kemudian diartikan sebagai menyampaikan Firman Allah atau memproklamasikan berita pendamaian dan kesejahteraan, memastikan pengampunan dosa, menyingkapkan masa depan dan merayakan masa kini sebagai kebaikan Tuhan.
Dengan demikian, maka khotbah adalah salah satu cara pemberitaan Firman Tuhan, di antara berbagai cara yang dapat dipakai untuk memberitakan tentang Firman Tuhan.
Tujuan Khotbah
- Menggumumkan/memproklamasikan dengan terang dan jelas berita yang dipercayakan kepada si pemberita tentang Allah yang memerintah dunia ini dalam AnakNya Yesus Kristus.
Jadi yang mau dikatakan dari tujuan pertama ini adalah bahwa khotbah menjadi sarana untuk menyatakan dengan jelas dan terang kehendak dan kuasa Tuhan, bukan kehendak, kuasa dan keinginan manusia. (bdk. Gal.1 :9-10).
- Menyampaikan pesan berupa kabar baik atau kabar sukacita (bhs. Yun: ευαγγελιον, Euanggelion/ bhs. Indo:Injil) yang telah diperbuat Allah, yaitu bahwa Allah telah membebaskan, memberi kelegaan dan menyembuhkan manusia. (bdk. Yes. 61; Luk. 4:18-19; Mat.11:28).
- Memberi kesaksian (Bhs. Yun : μαρτυρια, Marturia) secara benar bahwa oleh kematian dan kebangkitan Kristus, dunia ini telah diampuni dan diselamatkan karena anugrah Allah (Yoh.3:16; Rom 6 :23).
- Mengajarkan tentang kehendak Allah atau perbuatan Allah bagi dunia dan manusia ( I Pet.2:9-10) untuk diyakini dan diberlakukan dalam kehidupan sehari-hari. (bandingkan Mat. 7:21, dengan tekanan pada kata ‘melakukan’).
Fungsi Khotbah[10]:
- Berfungsi sebagai Jembatan
Dalam fungsinya sebagai jembatan, khotbah berperan sebagai pertama: jembatan yang menghubungkan dunia Alkitab dan dunia jemaat di masa kini. Peran ini penting sekali sebab antara apa yang sedang dan digumulkan pada saat Alkitab itu ditulis jauh berbeda dengan perkembangannya masa kini.
Perbedaan itu bisa karena bahasa, karena budaya, karena politik dsb. Untuk maksud ini maka diperlukan adanya pembimbing, juru wisata/tour guide. Sarjana teologi pertama-tama berperan sebagai tour guide/narasumber yang memberikan penjelasan atas adanya perbedaan itu. selain sarjana teologi (pendeta), buku-buku teologi di seputar pembimbing PL-PB juga dapat berperan untuk hal itu. Untuk mengatasi perbedaan itu, maka diperlukan sebuah upaya mengartikan kata atau budaya yang ada dalam dunia Alkitab saat itu.
Dalam bahasa Yunani upaya, yang kita sebut sebagai jembatan ini dinamakan Hermeneueinηερμενευειν. Kata Hermeneuein ini berasal dari kata yunani herm, ηερμ, yang berarti batu perbatasan[11].
Arti ini dalam kata hermeneuein berarti menyebrangkan/ membawa sesuatu melewati perbatasan. Jika perbatasan itu adalah bahasa, maka hermeneuein berarti menerjemahkan suatu makna lewat batasan-batasan bahasa, yang dalam ilmu tafsir disebut Tafsir/Tafsiran.
Tujuan dari peran sebagai jembatan adalah untuk menghubungkan dunia Alkitab dan dunia masa kini adalah membuat makna yang ada di dunia Alkitab itu dapat di tangkap, dimengeri oleh kita di masa kini.
Makna yang dimaksudkan di sini tentu saja bukan sekedar arti kata/kata yang sama tetapi juga yang menyangkut dengan dampak dan penghayatan yang mendalam dari inti pemberitaan itu.
Peran Keduadari fungsi khotbah sebagai jembatan adalah memberikan sesuatu yang menjadi kebutuhan jemaat pada masa kini. Sebagai jembatan, khotbah itu memiliki dua arah, artinya khotbah dapat memberikan petunjuk, bimbingan, pengajaran kepada jemaat bagaimana mereka bersikap, bertingkah laku pada saat berhadapan dengan sesuatu, baik itu sebagai kebutuhan, pergumulan atau papun juga.
Peran Ketiga adalah sebagai jembatan ia memiliki dua kaki yang sangat kuat.
Maksud dari pernyataan ini adalah upaya seorang pengkhotbah memberikan makna yang ada dalam Alkitab atau teks Alkitab yang ia baca mesti benar-benar akurat sesuai dengan yang sebenarnya pada saat itu dan kemudian itu juga dapat benar-benar bersentuhan dengan pergumulan yang benar-benar dialami jemaat.
Dalam hal ini tekanan pada teks asli dan teks jemaat harus sama kuat[12]. Jangan sampai ketika berkhotbah kita hanya jelaskan yang di Alkitab tetapi tidak tolong jemaat untuk dia dapat mengerti apa yang di Alkitab itu dengan keadaannya sekarang.
Atau sebaliknya jangan hanya omong keadaan sekarang padahal bukan itu yang dimaksudkan Alkitab.
- Berfungsi sebagai Kaca mata
Kacamata yang kita pakai biasanya berguna untuk membantu penglihatan kita yang mulai kabur untuk menjadi terang dan jelas. Dalam fungsinya sebagai kaca mata, khotbah itu berguna untuk membantu kita melihat diri kita dan lingkungan hidup kita dengan lebih terang.
Kacamata yang membantu kita untuk melihat dengan jelas diri kita dan lingkungan hidup kita itu adalah Alkitab.
Salah seorang bapak gereja Reformasi, Johanis Calvin, menyebut Alkitab sebagai specula scriptura “kacamata Alkitab”.
Maksudnya penilaian kita yang jelas dan terang itu dinilai berdasarkan pedoman yang ada dalam Alkitab, bukan berdasarkan pada ukuran yang ada dalam budaya tertentu, pikiran manusia atau teori tertentu.
- Berfungsi Sebagai Pedang
Dalam fungsi ini, khotbah harus diarahkan agar setiap pendengarnya harus mengambil sebuah keputusan, ya atau tidak.
Pedang yang dimaksudkan di sini bukanlah untuk berperang tetapi untuk memutuskan. Kalaupun diartikan sebagai alat berperang, maka khotbah seorang pelayan firman Tuhan adalah saat untuk pendengarnya berperang dengan dirinya untuk segera memutuskan, mengambil keputusan.
Pengambilan keputusan itu adalah pengambilan keputusan disaat krisis. Krisis dalam arti ini, sesuai dengan arti bahasa Yunani berarti saat yang mendesak untuk mengambil keputusan.
Arti seperti pernah di sampaikan Yesus dalam sebuah pengajaranNya seperti yang ditulis injil Matius, ketika Yesus berkata :Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang”.
Maksudnya kedatangan Yesus adalah kedatangan yang harus dilihat sebagai sebuah krisis yang menuntut pendengarnya menentukan keputusan, apakah mau setia mengikuti Yesus ataukah mau tetap hidup damai dengan hal-hal yang ada saat itu yang bertentangan dengan kehendak Tuhan.
- Berfungsi sebagai Roti[13]
Dalam fungsi ini khotbah adalah sumber kekuatan bagi jemaat untuk jemaat pakai dalam menjalani kehidupan, atau sumber makanan bagi jemaat untuk dipergunakan untuk tetap hidup berkenan kepada Allah atau menjadi kabar sukacita yang dapat jemaat bawa pulang bagi kehidupan mereka.
BERKENALAN SEJENAK DENGAN ALKITAB
Dari tadi kita sudah melihat apa itu khotbah berdasarkan arti kata, tujuan dan fungsinya dalam pemberitaan firman Tuhan. Apa yang kita bicarakan itu oleh gereja protestan disebut sebagai firman yang diberitakan.
Sekarang sebelum lebih jauh kita membicarakan firman yang diberitakan itu, kami ajak kita sejenak berkenalan dengan Alkitab sebagai sumber dari firman yang diberitakan. Kita mulai dengan sebuah pertanyaan ‘Apakah Alkitab Itu?”
Untuk menjawab pertanyaan Apakah Alkitab itu, kami membagi upaya kita menjawabnya dalam 2 bagian, yaitu Pengertian Alkitab dan Bagaimana mempergunakan Alkitab.
- Pengertian Alkitab
Kalau kita buka buku yang bertuliskan Alkitab, maka pada halaman pertama dari buku itu akan dijumpai 2 tulisan besar, yaitu PERJANJIAN LAMA dan PERJANJIAN BARU.
Pada masing-masing tulisan itu tertera sejumlah nama-nama kitab (39 untuk PL dan 27 untuk PB). Karena itu, maka orang mengartikan Alkitab sebagai kumpulan kitab-kitab dalam dua jilid, yaitu PL dan PB.
Groenen, seorang ahli kitab suci PL dari gereja katholik mengatakan bahwa Alkitab itu sebenarnya adalah sebuah Library (perpustakaan buku), yang terdiri atas 2 rak buku besar dengan nama PL dengan kitab-kitab yang terdiri atas rak taurat, sejarah, syair dan sastra serta nabi-nabi.
Lalu pada bagian lain ada juga rak PB, yang terdiri atas rak injil, sejarah, surat-surat dan wahyu.
Pengertian ini muncul dari arti Alkitab itu sendiri, yaitu kata yang berasal dari bahasa Arab, Al berarti semua, seluruh, kumpulan dan Kitab berarti buku-buku/kitab-kitab, sehingga Alkitab diartikan sebagai kumpulan buku-buku/kitab-kitab.
Dari isinya, Alkitab diartikan sebagai kesaksian akan Allah dan karyaNya di dalam kehidupan manusia an alam semesta. Artinya di dalam Alkitab kita menemukan karya Allah dalam hidup kita dan dalam alam semseta.
Kesaksian ini sering diartikan juga sebagai Penyataan, yaitu sebuah upaya mengungkapkan apa yang tersembunyi menjadi jelas, terang dan nyata. Alkitab sebagai firman yang tertulis, sebagaimana yang diakui dalam gereja protestan, adalah juga sebuah penyataan Allah.
Maksudnya bahwa melalui kesaksian Alkitab, Allah membuka apa yang selama ini tersembunyi dari Allah bagi manusia untuk disingkapkan, dinyatakan dengan jelas, terang dan nyata, siapakah Allah itu, karyaNya dan maksudNya bagi kehidupan kita dan alam semesta.
Penyingkapan itu terjadi melalui karyaNya dalam sejarah, melalui AnakNya, Yesus Kristus dan juga dalam hati manusia. Penyingkapan lewat sejarah dan hati manusia berlangsung terus menerus.
Dan supaya penyataan itu dapat diteruskan dalam sejarah kehidupan manusia dan tidak mengalami penambahan atau pengurangan, maka ia dituliskan dan dibukukan menjadi tulisan dalam kitab-kitab yang terhimpun menjadi satu dengan nama ALKITAB, yaitu itu firman Allah yang tertulis.[14]
Penulisan dan pembukuan penyataan ini dimaksudkan supaya dapat diketahui oleh berbagai generasi manusia. Dalam proses ini, Allah memakai manusia. Kata memakai di sini menunjukkan campur tangan Allah.
Proses penulisan, pengredaksian dan pembukuan ini semua berangsung dalam kuat kuasa Roh Kudus, artinya datang dari dan diilhami oleh Roh Kudus di dalam diri manusia yang Allah pakai untuk proses tersebut supaya semuanya ini menjadi kesaksian yang hidup tentang siapakah Allah itu.
Dalam mengilhami manusia, Allah tidak mendikte/mengeja kata, huruf atau kalimat, melainkan penulis Allah tuntun untuk dengan kemampuan dan hikmatnya, ia menulis apa yang ia alami dalam hidupnya, apa yang dialami seseorang dalam hidupnya atau keadaan di sekelilingnya sebagai sebuah kesaksian tentang karya Allah.
Penulisan itu terjadi dalam tuntutan kuasa Allah.[15] Itulah sebabnya kisah-kisah Alkitab diceritakan dengan ada perbedaan tetapi dalam hal isi dan pesannya sama.[16]
Karena proses ini, seorang pendeta di Swiss, yang juga Ahli teologi, bernama Karl Barth mengatakan bahwa Alkitab itu adalah Firman Allah dalam firman (kata-kata) manusia.[17]Karena itu supaya dapat mengerti dan mengetahui firman Allah itu, maka orang yang menggunakan Alkitab mesti terlebih dahulu menggali makna di balik kesaksian itu, mengapa?
Karena saat menulis kesaksian tentang karya Allah, cara berpikir, budaya dan pengaruh serta kejadian saat itu ikut dibawa masuk sebagai sebuah dinamika, sebagai sebuah kondisi/latar belakang yang mendasari kesaksian itu. Upaya menggali makna itu disebut dengan nama Eksegeseatau juga Hermeneutik, seperti yang telah kita singgung di awal tulisan ini.
Karl Barth menggunakan istilah Intertekstual Hermeneutic, artinya sederhananya adalah bahwa saat membaca sebuah pasal atau ayat dari teks Alkitab, maka pembaca mesti melihat hubungan antara pasal dan ayat yang lain karena memiliki relasi atau hubungan.
Yang dimaksudkan di sini adalah sebuah pembenaran atas sebuah teks yang diragukan mesti didasarkan pada teks lain bukan berdasarkan pikiran penafsir saja. Dengan kata lain, ia mau bilang Intertekstual Hermeneutic adalah Alkitab membaca/menafsir Alkitab[18]
- Bagaimana Mempergunakan Alkitab
Dalam upaya kita memberi arti tentang Alkitab, kita diberi informasi bahwa Alkitab adalah kesaksian tentang Allah, yang disaksikan manusia kepada manusia lain dari satu generasi ke generasi berikutnya, dari suatu waktu ke waktu yang lain, yang terjadi dan diilhami Roh Kudus.
Untuk itu, maka dalam mengunakan Alkitab diperlukan sikap kritis, artinya Alkitab dibaca untuk dipahami maksudnya secara bertanggung jawab.
Pertanggung jawaban yang dimaksudkan adalah pertanggung jawaban iman, apakah benar tidak dengan kesaksian Alkitab itu sendiri. Ini artinya bahan utama khotbah adalah Alkitab.
Memang dalam berkhotbah sumber lain seperti konteks pendengar juga perlu diperhatikan, akan tetapi menyangkut isi, maka pengkhotbah harus menjadi Alkitab sebagai sumber utama dan satu-satunya, bukan sebaliknya Alkitab mengikuti khotbah[19]. Membaca secara kritis inilah yang sering diistilahkan dengan Hermeneutik atau Eksegese.
Sebelum kita lebih jauh membicarakan tentang langkah-langkah membaca Alkitab secara bertanggung jawab atau langkah-langkah eksegese-hermeneutik, maka perlu kita tahu dulu beberapa istilah yang sering digunakan dalam proses eksegese-hermeneutik itu, yaitu ayat, teks dan konteks.
- Ayat
Ayat dalam Alkitab adalah bagian dari teks atau nas. Dalam sebuah nas ada sejumlah ayat yang membentuk sebuah teks atau nas menjadi sebuah rangkaian cerita.
Ayat ini sendiri juga terdiri dari beberapa kata yang membentuk sebuah kalimat dan selanjutnya menghasilkan sebuah paragraf. Misalnya ayat Mazmur 119:105, “FirmanMu bagi kakiku, terang bagi jalanku”
- Teks
Teks punya arti kata yang sama dengan nas/perikop. Kata teks itu sendiri berasal dari bahasa latin, yaitu textus atau textum, yang artinya sesuatu yang terjalin atau dipintal.[20]
Misalnya Penciptaan Langit dan bumi (Kej.1 :1 – 31). Inilah nats atau teks itu.
- Konteks
Konteks adalah tempat, keadaan, situasi yang berada di sekitar cerita/nas/teks. Biasanya konteks itu tidak secara langsung disebutkan melainkan baru akan terlihat setelah kita membacanya dengan teliti dan saksama. Misalnya konteks cerita tentang kelahiran Yesus.
Dengan membaca maka kita bisa menentukan tempat, waktu dan situasi yang berlangsung pada saat kelahiran Yesus, seperti berlangsung di kandang, di Betlehem, di tanah Yehuda, pada waktu malam, saat sedang berlangsung sesnsu pertama di dunia pada masa Agustus kaisar Romawi dan Kirenius wali negeri di Siria. Peristiwa itu terjadi dalam kedaan malam yang sunyi, penuh bintang.
Inilah informasi-informasi yang kita tahu dari teks tentang konteks teks. Tapi selain itu supaya kita lebih memahami konteks untuk memperkaya pengetahuan kita sehingga saat berkhotbah kita bisa jadi jembatan untuk bawa pesan asli ke dalam hidup kita, maka kita juga perlu dibekali dengan pengetahuan tentang keadaan, tempat, situasi yang punya kaitannya dengan cerita itu yang tidak tertulis secara terang dalam cerita itu.
Kalau kita punya cukup waktu dan memang harus bagi seorang pengkhotbah, kita bisa baca buku-buku tentang latar belakang dari sebuah cerita dalam Alkitab, misalnya tentang Yerusalem tempo dulu, keadaan Betlehem, cara hidup penduduknya, politiknya atau misalnya baca kitab-kitab sejarah dari Alkitab dsb. Atau kalau keterbatasan waktu kita, maka perlu bagi kita menanyakan hal itu kepada orang yang tahu hal-hal itu. Dalam gereja tentu pada sarjana teologi, PAK (pendeta dan guru PAK).
Ini semua penting karena pada akhirnya ini formasi-informasi itu akan menolong kita mengerti konteks pertama dari cerita tadi untuk kemudian dapat kita bawa untuk jadi pesan bagi pendengar yang sedang bergumul dengan konteksnya sekarang, yang membutuhkan kekuatan dari firman Tuhan[21].
Nah sekarang mari bersama kita mulai membahas tentang bagaimana mempergunakan Alkitab untuk kepenting berkhotbah. Ada beberapa langkah yang perlu dilalui saat mempergunakan Alkitab dalam mempersiapkan khotbah, yaitu :\
- Berdoa
Tujuan dari berdoa sebelum baca Alkitab adalah untuk meminta hikmat dan tuntunan Roh Kudus supaya memampukan kita mengerti firman Allah dengan baik dan benar.
Marthin Luther bilang bahwa peran doa di awal persiapan adalah sebagai cara kita memohon Tuhan membuka hal-hal yang tersebunyi bagi kita untuk kita tahu dan mengerti.
- Memilih nats/teks.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika hendak memilih nats/teks bacaan, yaitu kebutuhan pemberitaan. Maksudnya kita akan memakai nats ini untuk keperluan apa dalam berkhotbah. Kalau diminta untuk doa syukur, maka nats yang kita pilih adalah untuk doa syukur.
Selain itu juga memperhatikan nats berdasarkan tahun gerejawi, misalnya advent, natal, epifania, pra paskah, paskah-penampakkan, kenaikan, keturunan, pekabaran injil, bulan keluarga, bulan pendidikan. Atau juga berdasarkan hari besar kenegaraan atau juga berdasarkan kebutuhan jemaat dan kedaan setempat.
Penentuan nats atau pembacaan dengan memperhatikan hal ini penting supaya khotbah yang akan kita bawakan itu menjadi bimbingan, nasehat, ajakan, peringatan bagi jemaat dalam menjalani kehidupan mereka di masa-masa itu.[22]
- Membaca dan Menafsir
Membaca bagian Alkitab tersebut dengan teliti dan berulang-ulang. Maksudnya agar ketika kita membaca, kita juga berusaha untuk menangkap makna dari setiap kata atau ucapan di dalam bacaan/nas tersebut.
Kalau kita memiliki beberapa terjemahan Alkitab dan menguasainya, maka sebaiknya terjemahan itu juga kita baca lalu membanding-bandingkannya untuk mencari tahu bahasa atau kata yang belum kita pahami.
Pembacaan Alkitab beberapa kali ini penting. Menurut de Jong, seorang pendeta Belanda, karena Roh Kudus sering memberi sedikit demi sedikit pengertian tentang teks atau bagian yang dibaca dengan tidak tergesa-gesa.[23] Setelah itu kita juga mulai mencari kata-kata kunci yang biasanya muncul di awal, tengah atau akhir bacaan dan yang mempengaruhi semua isi bacaan.
Kata ini biasa muncul lebih banyak dibandingkan kata lain dalam bacaan itu atau dapat memberi dan mempengaruhi arti dalam sebuah teks atau cerita yang ada dalam bacaan.
Setelah dengan teliti kita membaca, maka mulailah kita bertanya terdapat di manakah teks/nats itu?Untuk bisa menjawab pertanyaan ini, maka kita mesti tahu pembagian kitab-kitab.
Kalau PL maka apakah ia cerita sejarah, nubuat ataukah puisi: pujian. Bila PB, maka apakah itu injil, kisah perjalanan, surat-surat ataukah wahyu. Saya memberikan rangkumannya sebagai penyegaran, yaitu:
PL : 39 kitab : Taurat (Kejadian – Ulangan), Sejarah ( Yosua – Ester), Sastra/Puisi (Ayub – Kidung Agung) dan Nabi-Nabi (terbagi dua lagi, Nabi-Nabi Besar :Yesaya –Daniel dan Nabi-Nabi kecil: Amos-Meleakhi).
PB : 27 kitab : Injil ( Matius – Yohanes), Sejarah ( Kisah Para Rasul), Surat – Surat ( Roma – Yudas: ini terbagi lagi menjadi dua yaitu yang ditulis Paulus :Roma-Ibrani dan yang umum dari Yakobus-Yudas) dan Wahyu (Wahyu Yohanes)
Setelah kita sudah tahu tempatnya, maka sekarang kita mulai mempersempit penelitian kita dengan menggunakan beberapa pertanyaan, yaitu:siapakah penulisnya, kepada siapa dan apa isinya.
Kalau Nubuat yang biasanya terdapat banyak di kitab Nabi-Nabi, maka perlu kita cari tahu waktu penyampaiannya, saat mana dan kenapa begitu. Ini semua bisa kita tahu dengan membaca bahagian Sejarah.
Untuk itu silahkan kita periksa di catatan kaki awal dari kitab nubuat itu rujukan ayat atau bacaan lain dari teks Alkitab. Periksa itu.
Biasanya langkah ini juga digunakan untuk sastra. Masa dan waktu biasanya ada di bahagian pertama kitab itu. Karena itu periksalah bahagian yang disebutkan itu.[24] Sesudah kita dapat gambaran tentang teks tadi, maka sekarang kita mulai serius membacanya.
Rumus 5 W 1 H ( Who, What, When, Where, Why and How : Siapa, Apa, Kapan, Di mana Mengapa dan Bagaimana)[25]
Langkah pertama:
Baca perikop lima kali pada waktu yang berbeda-beda – dan jawab pertanyaan-pertanyaan ini: Apa yang bisa saya lihat? Apa yang bisa saya pegang? Apa yang bisa saya cium? Apa yang bisa saya dengar? Apa yang bisa saya rasakan?
Berikan kesempatan bagi imajinasi anda untuk bekerja. Tutup mata dan tempatkan diri anda dalam perikop tersebut selama beberapa menit.
Dengan meneliti ini maka diharapkan nanti akan didapatkan pelaku-pelaku yang bisa membantu kita untuk memahami lebih dalam tentang teks. Setelah mendapatkan gambaran tentang hal yang ditanyakan di atas, maka kita mulai bertanya siapakah pelaku-pelaku yang ada dalam teks itu.
Setelah itu, maka pelaku-pelaku kita daftarkan, lalu tugas kita selanjutnya adalah mencari pelaku utama, dengan ciri: dia menjadi pusat cerita.
Pelaku yang harus jadi fokus perhatian kita adalah yang aktif dalam cerita. Jika pelaku utama sudah kita dapatkan, maka fokuskanlah perhatian kita untuk menggali pelaku utama itu. upaya kita mendapatkan informasi ini juga dapat kita tempuh dengan membaca bagian bacaan sebelum dan sesudah atau rujukan lain yang disebutkan dalam bacaan itu.
Catatlah semua informasi yang kita dapatkan dari para pelaku, baik dengan pelaku/tokoh utama atau yang tidak yang kita temui dalam cerita.
Langkah kedua:
Apakah yang pelaku utama dan pelaku-pelaku lain itu perbuat? Di mana, kapan dan dalam peristiwa apa? Apakah ada hubungan antara yang pelaku perbuat dengan peristiwa lainnya yang muncul dalam cerita itu?
Sekali lagi kita ikuti perkembangan dari pelaku-pelaku tadi. Apa reaksi mereka ketika berelasi dengan pelaku yang lainnya.
Lalu bagaimana peran, fungsi dan tempatnya. Cobalah menghubungkan tingkah laku pelaku yang satu dengan yang lainnya.
Langkah ketiga:
Apa yang para pelaku katakan. Perhatikan ucapan kata-katanya dan bacalah sesuai dengan ungkapannya dengan menjiwainya.
Lihatlah sifat dari kata-kata itu supaya kita bisa membuat pengelompokkan apakah kata-kata itu berupa informasi, nasehat, perintah, larangan, ungkapan, dst.
Jika kita serius dengan melakukan hal ini, maka kita juga akan mendapatkan petunjuk tentang gambaran sifat dan watak pelakunya atau identitas pelakunya, serta makna dari ungkapan itu.
Karena kita ikuti apa yang pendeta Barth katakan, maka jangan lupa pula kita menggali informasi lebih jauh tentang pelaku itu di teks atau kitab lain jika memang pelaku itu juga muncul dalam cerita di sana.
Langkah keempat:
Setelah kita mengetahui apa yang ada di langkah pertama sampai ketiga maka selanjutnya kita juga buat pertanyaan apakah hal tersebut juga terjadi dalam hidup kita? Dan apakah sikap kita bila saat itu juga kita alami? Apakah ada perubahan sikap dari pelaku dalam teks? Seperti apakah perubahan itu?
Di sini nanti kita akan menemukan bahwa cerita atau teks itu memberikan sebuah pelajaran bagi kita dan kita juga bisa bertemu dengan reaksi pelaku terhadap keadaan itu. Ini adalah sebuah upaya untuk memaknai teks itu bagi kepentingan dan pergumulan kita.
Karena kita menerima teks Alkitab sebagai kesaksian akan karya Allah dan berisikan apa yang Allah kehendaki, maka ditempat ini pula kita juga perlu bertanya dan merenungkan apakah yang Tuhan nantikan dari hidup kita setelah pembacaan teks ini?Selain itu biasanya antara 1 teks dengan teks yang lainnya ada hubungan atau saling memberi informasi karena itu kita mesti membacanya.
Periksalah teks yang ada dalam tanda kurung di bawah judul cerita untuk menambah informasi. Misalnya Markus 1:29-34 //Matius 8:28-34.
Langkah lain yang berpengaruh juga adalah tentang situasi atau keadaan yang terjadi saat itu, di sekitar teks/nas, atau hal-hal lain yang mempengaruhi bacaan itu. kita perlu mencari tahunya.
- Menyusun Khotbah
Bagaimanakah Menggunakannya Dalam Pelayanan?
Sudah barang tentu, apa yang kita buat di atas akan kita gunakan dalam pelayanan ibadat, karena itu perlu untuk dipersiapkan dengan baik supaya ia jadi berkat bagi kita dan yang mendengarnya. Bagaimanakah itu? Semua pesan dalam teks harus kita lanjutkan kepada orang lain.
Pesan dalam teks itu ada bervariasi, misalnya menghibur, menguatkan iman, menegur kesalahan, memberikan sukacita, memberi jalan keluar, mengubah pola hidup, nasehat, perintah dst.
Kalau kita sudah dapatkan itu, maka langkah pertama adalah kita tentukan mana dari pesan-pesan ini yang akan kita gunakan.
Ini tentunya harus disesuaikan dengan situasi, kondisi, keadaan yang sedang terjadi di tempat yang akan kita beritakan renungan kita. Misalnya kematian, berarti pesan penghiburan atau penguatan iman dsb.
Selesai buat itu, maka langkah berikutnya adalah penentuan tema, judul renungan. Tentunya sesuai dengan pesan yang mau kita sampaikan. Setelah itu kita berpindah pada penentuan tujuan, yaitu apa yang mau kita capai atau harapkan dari pemberitaan ini sebagai langkah selanjutnya. Ini masih berkaitan dengan hal awal tadi, penentuan pesan.
Kalau kita sudah menemukan itu semuanya, maka giliran selanjutnya adalah membuat pendahuluan. Ini penting karena ia yang akan jadi pintu masuk, atau bahasa kerenya entry point guna menarik perhatian orang untuk beri pendengaran dan perhatian mereka pada pemberitaan kita.
Cara ini ada bervariasi, misalnya dengan contoh, cerita, puisi, mitos. Semua ini boleh-boleh saja, asalnya yang penting ia tidak kasih kabur isi dan maksud yang mau disampaikan.
Oleh karena itu, hal yang perlu diperhatikan dalam membuat pendahuluan adalah: Harus singkat tetapi jelas. Tidak boleh panjang dan berbelit-belit sehingga membosankan. Harus mempunyai hubungan dengan isi atau tema khotbah. Harus menarik perhatian pendnegar/membangkitkan minat untuk mendengar
Contoh : tema “Kebahagiaan”
Kebahagiaan adalah dambaan setiap orang. Atau siapa sih di antara kita yang tidak mau bahagia?
Karena kita mau bahagia, kitapun pasti akan berusaha sekuat tenaga untuk menemukan atau mencapai kebahagiaan yang dimaksud.
Tetapi pertanyan bagi kita, apakah kebahagiaan itu?
Siapakah yang layak disebut bahagia? Dan kapankah seseorang disebut berbahagia? dst.
Setelah itu mulailah untuk memasukkan pesan atau isi teks sebagi isi atau tubuh khotbah. Isinya adalah pesan/isi teks yang sudah kita gali itu dengan memperhatikan tujuan yang sudah kita siapkan tadi. Jangan pakai pesan lain yang keluar dari tujuan yang sudah dibuat.
Orang yang sudah terbiasa akan selalu padukan pendahuluan dan isi atau saat dia berkhotbah ia sudah langsung masukan isinya silih berganti.
Isi atau tubuh khotbah adalah inti sari dari sebuah khotbah yang akan kita sampaikan kepada pendengar atau jemaat. Dalam menyusun isi khotbah, kita dapat dibantu dengan beberapa pertanyaan:
- Tentang apa, misalnya kalau thema adalah kebahagiaan, maka yang ditanyakan adalah apa itu kebahagiaan menurut nas yang kita baca atau apa itu kebahagiaan menurut masyarakat umum atau bahkan menurut kita sendiri. pertanyaan apa ini dapat dijawab dengan membuat definisi atau penjelasannya
- Tentang Kapan, kapan seseorang mengalami kebahagiaan, apakah karena banyak harta yang dimiliki, jabatan, hati yang tidak sedih ataukah kapan?
- Mengapa, mengapa setiap orang membutuhkan kebahagiaan atau mengapa manusia susah memperoleh kebahagiaan yang diharapkan?
Jika sudah selesai dengan hal itu, maka sekarang kita akan mengakhiri pemberitaan. Untuk itu kita perlu membuat penekanan atau kesimpulan agar orang tahu apa yang jadi pesan dari pemberitaan sebagai pegangannya menjalani kehidupan.
Setelah selesai membuat kesimpulan barulah itu kita menutupnya dengan menggunakan kata-kata yang bersifat persuasif, artinya mengajak, mempengaruhi untuk ambil 1 keputusan, sikap menuju kepada apa yang Allah nanti dari kehidupan kita.
Pada intinya bagian penutup atau aplikasi khotbah adalah berupa kesimpulan dari khotbah yang kita siapkan dan sampailkan kepada pendengar atau jemaat. Untuk membuat kesimpulan ini, kita dapat dibantu dengan jawaban berupa: nasehat, teguran atau ajakan.
Sebagaimana dalam pendahuluan, maka dalam bagian penutup, seorang pengkhotbah tidak boleh membuat kesimpulan yang panjang dan bertele-tele. Kesimpulan harus singkat serta merangkum keseluruhan bagian isi khotbah.
- Cara Membawakan Renungan
Berikut ini beberapa hal praktis, sederhana tetapi yang menentukan yang mesti perlu diperhatikan saat membawakan renungan, sebab sikap ini akan juga mempengaruhi mau tidaknya orang beri perhatian pada renungan itu, yaitu:
Waktu:Jangan terlalu lama dan membosankan. Sebaiknya pengkhotbah mesti jeli untuk melihat keadaan dari setiap pendengar dan situasi yang ada. Biasanya 15-30 menit.
Suara:Berirama, jelas, jangan kaku. Usahakan dapat didengar dengan jelas
Tempo:Mengikuti situasi dan kondisi saat renungan disampaikan.
Posisi:Harus di tempat sentral, yang mudah dilihat atau didengar orang.
Gerak tubuh:Jangan kaku, tegang tetapi luwes dan bisa membantu memperjelas maksudnya.
Penampilan:Pengkhotbah juga mesti menarik minat orang untuk melihat dan mendengar dan tidak menimbulkan keresahan dan kegelisahan orang ketika melihat. Hilangkan juga kesan tidak siap.
Karena itu jangan putus kontak dengan pendengar (jangan hanya tunduk atau mengangkat kepala ke atas atau tutup mata).
Perhatikanlah pendengar. Jangan membuat pendengar bosan tetapi buatlah suasana yang menyebabkan mereka tertarik untuk terus mendengar.
Selain itu perhatikanlah cara kita berpakaian. Pakaian kita mesti rapih. Jangan gunakan baju kos sekalipun itu berkerak saat memimpin ibadah atau renungan.
Pakaian mesti rapih bersih, sopan dan sesuai dengan etika berpakaian (hindari penggunaan rok mini atau yang ketat yang memperlihat lekukan tubuh atau memperlihatkan bagian-bagian tubuh tertentu yang secara sosial tidak dapat diterima) dengan dandanan yang wajar, tidak terlalu mencolok dan kelihatan menor. Hal ini perlu diperhatikan supaya tidak mengganggu suasana ibadah dan perhatian peserta pada pemberitaan firman.
Satu hal yang mesti selalui kita ingat adalah pergunakanlah kalimat yang dapat dimengerti, benar dan jelas untuk ditangkap sehingga tidak melompat ke sana-sini dan akhirnya mengaburkan maksud.
Kami juga menganjurkan untuk buatlah khotbah dengan tertulis. Ini maksudnya untuk arahkan kita supaya tidak melebar atau kemana-mana pemberitaan kita tetapi juga bisa jadi bahan refleksi dan pengembangan diri di masa yang akan datang. Banyak penatua dan diaken yang bertanya kepada kami, apakah bisa pakai daerah dalam berkhotbah?
Bahasa apapun dapat kita pergunakan dalam berkhotbah, tetapi untuk itu penggunaan bahasa mesti kita sesuaikan dengan pendengar/ jemaat. Jika kita gunakan bahasa daerah tetapi jemaat lebih banyak suku bukan pemilik bahasa tersebut, maka itu sia-sia.
Karena itu pilihlah bahasa yang disesuaikan dengan pendengar. Kalau kita menggunakan satu kata yang tidak diketahui umum, jelaskan arti kata itu supaya semua yang dengar tahu artinya. Hal yang penting yang tidak boleh dilupakan adalah bahwa sikap hidup kita adalah khotbah yang nyata.
Karena itu setiap pengkhotbah harus mengarahkan hidupnya untuk menjadi teladan bagi jemaat/pendengar. Jangan sampai ia bertentangan dengan yang sering diberitakan karena itu akan berakibat hilangnya semangat dan kemauan orang untuk mempercayai kesaksian kita lewat khotbah kita.
Pengkhotbah juga mesti senantiasa meminta hikmat dan pengertian dari Tuhan sehingga memampukannya menyaksikan dan menyampaikan Firman Tuhan secara terang dan jelas apa kehendakNya bagi kehidupan kita.
PENUTUP
Demikianlah beberapa catatan yang kami sampaikan. Semoga hal ini akan membantu kita dalam berbuat lebih baik ketika kita menjalankan tugas berkhotbah sebagai pembawa pesan firman Tuhan kepada jemaat atau orang lain. Syalom!
Penjarum, 12 September 2025
* Materi Pembekalan Homiletika bagi para presbiter Lingkungan Kasih di Jemaat Rehobot Bakunase, Jumat, 12 September 2025.
[1] Pdt GMIT Ketua I Majelis Jemaat Rehobot Bakunase, Klasis Kota Kupang, 2024-2027.
[2] GMIT merumuskan pelayanannya dalam panca program: koinonia, marturia, diakonia, liturgia dan oikonomia. Khotbah termasuk dalam pelayanan marturia yang berisikan kesaksian dan pemberitaan firman. Dalam penataan ruangan saat kebaktian, diatur untuk semua aktivitas, tempat duduk selama kebaktian mengarah ke mimbar sebagai simbol pemberitaan firman dalam kebaktian. Dengan catatan ini, maka diharapkan semua aktivitas seperti pujian jemaat dalam bentuk VG dan PS ketika dilaksanakan janganlah membelakangi mimbar karena apa yang dinyatakan dalam pujian itu menyaksikan akan apa yang disampaikan dalam pemberitaan firman.
[3] De Jonge, Khotbah, Jakarta: BPK-GM, 1987, hlm.17-19.
[4] Majelis Jemaat adalah pemimpin suatu jemaat. Mereka ini dalam T.GMIT 2010 dipilih dari jemaat untuk memimpin penyelenggaraan pelayanan kepada jemaat.
[5] T.GMIT 2010 menyebutkan jabatan pelayanan itu ada 4 pendeta, penatua, diaken dan pengajar. Mereka diteguhkan sebelum melayani dengan tugas yang berbeda tapi saling melengkapi dan mendukung. Keempat jabatan ini disebut presbiter.
[6] Itulah sebabnya terkadang dalam pelayanan ibadah ada juga jemaat non presbiter yang memimpin pelayanan firman.
[7] Untuk memperdalam makna ini bisa membacanya dalam buku Greg Scharf, Khotbah Yang Transformatif, Jakarta: yayasan Komuikasi Bina Kasih.
[8] Inilah yang membedakan cara berkhotbah gereja protesntan meanstream (seperti GMIT) dengan gereja kharismatik dalam cara mereka berkhotbah. Nanti akan jelas terlihat saat kita membahas bagaimana mempersiapkan khotbah.
[9] William Evans, Cara Mempersiapkan Khotbah, Jakarta: BPK-GM, 2006, hlm. 9
[10] Disarikan dari bahan materi Homelitika yang disiapkan oleh Pdt. Dr. John Campbell Nelson dan Pdt. Bejamin naralulu, MTH pada kegiatan TOT di Jemaat Nazareth Riumata, Juli 2008.
[11] Dalam masyarakat Yunani, yang terkenal dengan banyak dewa, terdapat seorang dewa yang bertugas membawa berita kepada manusia. Ia digambarkan sebagai yang bersayap di kaki, dengan maksud supaya dapat menyebrang dengan cepat dari surga ke bumi. Dewa ini disebut dengan nama Hermes, ηερμες, maksudnya yang ditugaskan melakukan kegiatan membawa pesan.
[12] Dalam banyak kesempatan, kami menemukan bahwa ketika seorang pendeta atau penatua baca Alkitab dan sampai saat ia berkhotbah, Alkitab ditutup dan ia mulai omong. Omongannya itu banyak kali tidak seperti teks Alkitab yang sedang ia baca.
[13] Untuk memperdalam makna fungsi sebagai pedang dan roti bisa membacanya dalam buku Greg Scharf, Khotbah Yang Transformatif, Jakarta: yayasan Komuikasi Bina Kasih. hlm. 185-193.
[14] Harun Hadiwijono, Iman Kristeni,Jakarta: BPK-GM, 1993, Hlm. 40-42.
[15] Ibid,hlm. 41
[16] Untuk lebih jelasnya silahkan baca buku Drewes : Satu Injil Tiga Pekabar terbitan BPK-Gunung Mulian
[17] E.I. Nuban Timo, The Eschatological Dimencion In Karl Barth’s,, Kampen, 2001, hlm.353.
[18] Ibid,Hlm.353.
[19] Untuk memperdalam pemahaman ini bisa membacanya dalam buku Ebenhaizer I. Nuban Timo, Allah Yang Mengulang DiriNya Tiga Kali, Salatiga: Satya Wacana University Press. 2013, hlm. 53-81.
[20] William Evans, Cara Praktis Mempersiapkan Khotbah, Jakarta: BPK-GM,2006, hlm. 18.
[21] Dalam fungsi khotbah tadi, maksud inilah yang disebut dengan jembatan yang punya dua kaki yang sama kuat (mohon periksa kembali penjelasan tentang fungsi khotbah).
[22] Untuk dapat membantu kita menentukan nats berdasarkan kebutuhan pelayanan, maka kita bisa memakai pembagian nas yang ada dalam buku ayat yang tepat, terbitan BPK-Gunung Mulia.
[23] De Jonge, Khotbah, Jakarta: BPK-GM, 1987, hlm.105.
[24] S.V. Nitti, Mengenal dan Menggunakan Alkitab Secara Tepat dan Benar, Yayasan Afnekan:2004
[25] Cara ini banyak digunakan untuk teks berupa cerita dan sebagian surat-surat dan bagian nabi-nabi. Cara ini juga merupakan pengembangan dari metode PPA, metode yang sering dipakai LAI dan kami menyebutnya sebagai cara 5 W1H sebagai istilah yang kami gunakan sendiri.