Keluarga yang Hidup Bergaul dengan Allah

Oleh Pdt. Yaksih A.N. Tnunai
Nats Pembimbing: Ibrani 11:7
Pembacaan Alkitab : Kejadian 6:9-22
Syalom!
Hari ini adalah hari minggu pertama kita beribadah di bulan Oktober 2025, yang sekaligus juga ditetapkan GMIT sebagai bulan keluarga. Dalam bulan ini, perenungan akan firman Tuhan dalam kebaktian akan merenungkan tentang tema-tema mengenai kehidupan keluarga kristen. Mengapa?
Jawabannya karena, keluarga bagi GMIT adalah basis pelayanan GMIT. Dalam keluarga pondasi iman itu diajarkan, ditanamkan dan dibentuk sebelum anggota keluarga itu berelasi dengan lingkungan dan sesama di mana ia berada. Keadaan ini menjadikan keluarga sebagai pusat pelayanan GMIT.
Siapakan keluarga itu? Secara umum, keluarga didefinisikan sebagai ayah, ibu, anak-anak. Dalam keluarga di masyarakat Timur dapat juga ditambah dengan saudara dari kedua pihak, suami dan istri.
Dalam kisah-kisah Alkitab, keberadaan keluarga juga dipercakapkan. Misalnya, percakapan tentang Abraham, Ishak dan Yakub, leluhur Israel, yang di dalamnya membahas kehidupan mereka sebagai suami-istir dan anak-anaknya. Dalam pembahasan tentang keluarga itu, ada yang menggambarkan kehidupan keluarga yang takut Tuhan tetapi ada juga yang tidak, seperti keluarga dari imam Eli di Silo contohnya. Kedua anak Eli, Hopni dan Pineas hidup dalam pemberontakan pada ketetapan Tuhan.
Hari ini, kita membaca cerita tentang Nuh dan keluarganya. Dalam bacaan, Nuh disebut sebagai orang yang bergaul dengan Allah. Penyebutan ini menarik, mengapa? Karena dalam Alkitab ada banyak suami dan bapak yang bergaul dengan Allah. Tetapi mengapa hanya Nuh saja yang diperhatikan secara khusus dalam Perjanjian Lama dengan label khusus tadi: ”Nuh itu hidup bergaul dengan Allah, demikian juga dalam Perjanjian Baru yang ditulis beribu-ribu tahun setelah Perjanjian Lama dibukukan, yakni dalam Ibrani 11:7, dimana Nuh disebut sebagai seorang yang bertindak berdasarkan iman? Ada apa dengan Nuh sehingga ia dikenang bukan hanya oleh umat dalam Perjanjian Lama, tetapi juga oleh jemaat dalam Perjanjian Baru?
Jika bacaan ini kita perhatikan, maka ada kualitas unik atau kepribadian khas yang dimiliki oleh Nuh, yang adalah pemimpin dalam keluarganya. Ayat 9 dari pembacaan tadi mengatakan: ”Nuh adalah seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang sesamannya.
Pernyataan ini muncul setelah ada gambaran di Kejadian 6:1-9 yang menggambarkan tentang kejahatan orang-orang yang hidup satu zaman dengan Nuh. Disebutkan di situ bahwa anak-anak Allah tertarik dengan anak-anak perempuan manusia yang cantik-cantik, lalu mereka jatuh cinta dan mengambil istri dari perempuan-perempuan itu, siapa saja yang mereka sukai sehingga Allah berencana mengambil kembali RohNya dari tengah-tengah manusia.
Ini memberikan kita kesan bahwa orang-orang pada masa Nuh mempraktekkan sebuah kehidupan yang tidak berkenan kepada Allah. Pada masa itu seks bebas, berselingkuh, dan punya wanita idaman lain (WIL) marak terjadi denga peminatnya yang banyak sekali. Pengaruh lingkungan yang seperti itu telah menarik banyak suami, bapak dalam keluarga yang juga menjadi bagian dari praktek dosa itu.
Walaupun praktek itu menjamur dan dilakukan banyak lelaki dan bapak, tapi Nuh tidak begitu. Dia adalah seorang suami dan bapak yang tidak bercela. Laki-laki yang bertindak benar di hadapan Allah karena Nuh hidupnya bergaul dengan Allah.
Sebelum gambaran tentang rumah tangga Nuh, Alkitab juga mencatat gambaran dari kehidupan keluarga dan rumah tangga yang pertama di Eden, yang tidak lain adalah moyangnya Nuh, yang hancur karena Adam, yang sekaligus sebagai kepala dalam keluarga berlaku serong. Ia tidak bergaul dengan Allah. Dikatakan bahwa manusia itu bersama istrinya bersembunyi terhadap Tuhan, ketika Tuhan berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk (Kej. 3:8). Adam memimpin istrinya untuk bersembunyi waktu Tuhan datang ke dalam taman itu.
Itu dilakukannya karena ingin menghindari pertemuan rutin dengan Allah, sebab ia sudah berlaku tidak setia pada perintah dan kehendak Allah. Karena perbuatannya itu maka kehidupan keluarga Adam di Eden mengalami banyak persoalan. Suami-istri itu tidak lagi saling mengasihi dan menghormati. Itu ditunjukkan dengan mereka saling mempersalahkan. Anak-anak mereka, Kain dan Habel juga saling membunuh.
Keadaan ini jelas berbeda sekali dengan keluarga dan rumah tangga Nuh yang utuh. Dalam keluarganya tidak muncul pertengkaran, apalagi konflik ataupun KDRT, punya WIL. Keluarga itu karena utuh dan hidup dalam kerukunan bahkan berhasil mengerjakan satu tugas yang besar, yakni membuat sebuah bahtera, sesuatu yang belum pernah dibuat orang sebelumnya.
Kunci dari semua itu, terletak dalam penyerahan hati dan hidup kepala keluarganya, yakni Nuh kepada Allah. Dalam pasal 6:22 ditulis: ”Nuh melakukan semuanya itu, tepat seperti yang diperintahkan Allah kepadanya, demikianlah dilakukannya.”
Catatan ini hendak menegaskan bahwa kapan saja seorang bapak, suami, dan kepala keluarga melakukan segala hal tepat seperti yang diperintahkan Allah, maka anak-anaknya bukan hanya dapat melakukan hal-hal yang besar, mereka juga akan selamat dari berbagai bahaya, godaan, dan cobaan dalam dunia. Ibrani 11:7 mengatakan bahwa karena iman Nuh menyelamatkan keluarganya.
Seorang ayah yang beriman, suami yang tidak bercela hidupnya, dan kepala keluarga yang hidup bergaul dengan Allah akan menyelamatkan rumah tangga dan anak-anaknya dari aneka macam bahaya dan ancaman kebinasaan.
Gambaran tentang Nuh yang hidup bergaul dengan Tuhan memberikan sebuah jawaban bagi kita bahwa rahasia langgengnya kehidupan rumah tangga dan diberkatinya kehidupan rumah tangga. Rahasia itu terletak pada hubungan yang kita bangun dengan Tuhan.
Kisah kehidupan dan rumah tangga Nuh menunjukan hal itu kepada kita. Orang-orang yang hidup sezaman dengan Nuh, seperti yang ditegaskan dalam ayat 12, menjalankan hidup yang rusak di bumi. Nuh ketika hidup, ia hidup dalam sebuah lingkungan masyarakat yang merusak hidup mereka dengan berbagai perbuatan tercela. Tetapi ia tidak terperangkap dalam berbagai bujuk dan rayuan lingkungannya. Ia tetap menjaga kekudusan hidup rumah tangganya. Kalau orang-orang di sekitarnya menikah dengan siapa saja yang mereka sukai, yang juga berarti berselingkuh, bahkan juga berpoligami, Nuh menjaga kekudusan hidup perkawinan, hanya memiliki satu istri, monogami dan menjaga kesetiaan hingga maut memisahkan mereka.
Mengapa? Karena Nuh, tidak bercacat hidupnya dan senantiasa bergaul dengan Allah. Ternyata membina hubungan yang erat dengan Tuhan memberikan banyak faedah bagi kokohnya bangunan perkawinan dan rumah tangga yang dibangun.
Hari ini kita memulai perayaan bulan keluarga GMIT. Sebuah perayaan yang bertujuan memberi kesempatan kepada tiap keluarga kristen di GMIT untuk berefleksi bersama sebagai keluarga dengan para anggotanya agar dapat mengevaluasi kembali perjalanan kehidupan sebagai keluarga sehingga dapat menemukan mana yang harus ditingkatkan, dijaga dan mana yang harus dibuang agar tidak merusaka kehidupan keluarga.
Di TV, di koran, di sekitar kita, sering kita dapati orang yang menikah tapi usia pernikahannya hanya seumuran jagung. Pendek sekali. Angka perceraian tinggi, perselingkuhan juga tinggi. Prostitusi yang melibatkan anggota keluarga juga ada dimana-mana. Karena itu penting bagi kita untuk belajar dari cerita Nuh bahwa kebahagiaan sebuah rumah tangga, perkawinan dan keutuhan keluarga terletak pada jalin hubungan yang erat antara orang-orang yang hidup dalam rumah tangga itu dengan Tuhan, melalui kepemimpinan kepala keluarga yang hidup bergaul dengan Tuhan, yang takut Tuhan
Kepala keluarga dan Orang tua yang beribadah, hidup tidak bercacat, dan suka bergaul dengan Allah, menurut bahasa Mazmur 128:1-6, pekerjaannya akan diberkati karena ia akan memakan hasil kerjanya dan keadaannya bahagia. Istrinya akan menjadi seperti pohon anggur yang subur di sekeliling meja dan anak-anak akan menjadi seperti tunas pohon zaitun sekeliling meja. Ia bahkan akan melihat anak-dari anak-anaknya dan berbahagia selalu.
Bagaimana kehidupan yang bergaul dengan Allah itu? Dari kehidupan yang digambarkan dalam masa Nuh, bentuknya adalah tidak mengikuti apa yang dilakukan orang kebanyakan pada masa itu (lih. Kejadian 6:1-9).
Selanjutnya, kehidupan yang bergaul dengan Allah di masa kini juga penekanannya sama seperti pada masa Nuh, tidak ikut gaya hidup, aktivitas yang merusak moral dan iman, yang bertentangan dengan kehendak Allah. Misalnya, perselingkuhan, prostitusi, KKN, Judi yang muncul dalam berbagai bentuk, pesta miras, bullying, tindak kekerasaan, penelantar anak dan meninggalkan tanggungjawab pada keluarga (silahkan dikembangkan sesuai konteks jemaat).
Hidup bergaul dengan Allah adalah kata kunci keutuhan keluarga, kebahagian suami-istri, orang tua anak, keberhasilan anak-anak meraih masa depan bahkan selalu tersedianya berkat di atas meja makan.
Hidup bergaul dengan Allah mengajak kita untuk bersikap dan berperilaku berbeda dengan lingkungan yang cendrung rusak karena memilih melakukan yang bertentangan dengan kehendak Tuhan. Hidup bergaul dengan Allah menuntut kemauan kepala keluarga sebagai pemimpin dalam rumah tangga untuk menjaga hati, iman dan memberi contoh hidup dalam relasi denga Tuhan melalui kerinduan untuk mengikuti yang Tuhan kehendaki.
Tuhan memberkati kita.