Sikap Kristus terhadap Penyandang Disabilitas

Pdt Yaksih A.N. Tnunay
Nats Pembimbing: Yohanes 9:4-5
Pembacaan Alkitab : Yohanes 9:1-12
Syalom!
Siapakah yang berdosa sehingga orang yang Yesus sembuhkan itu harus mengalami lahir sebagai seorang buta? Apakah itu karena dosanya ataukah dosa orang tuanya?
Pikiran seperti ini bukan hanya pikiran kita karena para murid Yesus pun juga berpikir demikian. Di ayat 2 terbaca bagi kita pikiran itu yang ditanyakan para murid kepada Yesus dalam percakapan mereka,
“Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?
Pikiran seperti para murid ini banyak kita temui dalam kehidupan. Agama-agama suku sering menghubungkan antara penyakit dan dosa. Antara perbuatan dosa dan kutukan sehingga kalau ada sesuatu yang dilihat sebagai penyakit, dianggap “kutuk” hal yang pertama yang ditanyakan adalah apakah yang diperbuat sebelumnya sehingga hal yang dianggap petaka itu menimpa atau dialami.
Pemahaman seperti ini juga tanpa terasa hidup juga dalam praktek beriman kita, walaupun kita sudah Kristen. Kalau ada sakit enggan berobat medis, tapi hubungkan dengan perbuatan dosa.
Para murid memiliki pemahaman seperti itu karena mereka adalah bangsa Yahudi dan umumnya bangsa Yahudi memiliki pikiran seperti para murid, bahkan pimpinan agama pun demikian. Dan untuk pemikiran seperti itu, Keluaran 20:5b menjadi rujukannya untuk menafsirkan hukuman dengan dosa.
“sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku,”
Singkatnya, kesalahan dan dosa akan berujung pada hukuman fisik. Apakah kebutaan yang dialami orang itu karena dosanya ataukah dosa orang tuanya?
Terhadap pertanyaan itu, Tuhan Yesus menjawab, ayat 3
“Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia.”
Apakah sesungguhnya maksud perkataan Tuhan Yesus ini?
Jawaban Yesus bukanlah sesuatu yang kebetulan diucapkan. Jawaban ini bukan saja merupakan respon Tuhan Yesus terhadap pertanyaan para muridNya, tetapi juga respon Tuhan Yesus kepada orang-orang yang ada di sekitarNya.
Peristiwa penyembuhan ini terjadi di Yerusalem atau di sekitar Yerusalem. Tempatnya memang tidak disebutkan secara spesifik. Namun di ayat 59, pasal 8, disebutkan bahwa terakhir kali sebelum penyembuhan ini, Yesus baru saja meninggalkan Bait Allah.
Waktu Dia berada di Bait Allah bersama para muridNya, sempat terjadi dialog antara diriNya dengan beberapa orang Yahudi, yang kemungkinan merupakan pengikut para imam atau yang fanatik dengan ajaran agama Yahudi. Dalam dialog itu, para Yahudi itu menuduh Yesus memakai kuasa setan dalam menyembuhkan atau melakukan pekerjaanNya (8:48-53).
Percakapan itu menciptakan ketegangan karena para orang Yahudi itu berusaha untuk mencari kesalahan Yesus untuk dijadikan alasan untuk diperkarakan. Dan karena percakapan itu ada di Bait Allah, yang selalu didatangi dan dipenuhi dengan orang yang mau beribadah, maka isi dan tuduhan dari para orang Yahudi itu bukan saja diketahui oleh mereka, tetapi juga oleh orang banyak lainnya yang ada di Bait Allah.
Tuduhan para orang Yahudi ini adalah sebuah upaya mem-framing, mengarahkan pikiran atau membingkai isu agar orang banyak akhirnya percaya pada apa yang mereka alamatkan pada Tuhan Yesus. Ini semacam pembentukan opini publik, sebab itu bukan sekali saja dikatakan tetapi beberapa kali.
Ucapan yang diucapkan beberapa kali walaupun salah bisa pada akhirnya dianggap benar. Persis seperti perkataan ini kebohongan yang diucap berulang-ulang pada akhirnya akan dianggap benar oleh orang banyak, walaupun itu kebenaran palsu. Dan inilah yang sedang dipakai oleh para orang Yahudi pada Yesus.
Berdasarkan hal ini, maka jawaban Yesus,
“Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia.”
Adalah respon Tuhan Yesus pada apa yang dituduhkan kepadaNya. Di dalam respon ini Tuhan Yesus hendak katakan kepada para murid yang bertanya dan juga orang banyak yang ada di sekitarNya bahkan mungkin para penuduh yang mungkin mengikutiNya untuk cari kesalahanNya, bahwa dalam kasus orang buta ini bukan karena kesalahannya atau orang tuanya tetapi Allah mau melalui apa yang dialami orang buta ini untuk menunjukkan kemuliaanNya, khusus kepada orang-orang yang suka menuduh karena ada kebencian, iri hati padaNya.
Daripada melayani perdebatan dengan mereka yang cendrung mencari kesalahan dan sudah fasik untuk tidak mau dibimbing pada hal benar, maka Tuhan Yesus memilih untuk menunjukkan secara nyata tuduhan mereka padaNya (lihat kembali 8:48 tadi).
Kita bisa menyebutkan seperti ini karena setelah mengucapkan ayat 3, Tuhan Yesus juga melanjutkannya dalam ayat 4 dan 5, dimana intinya ialah sekarang waktunya untuk kerja (dari kata siang-representasi waktu kerja), yaitu melakukan tugas utama yang diberikan Allah Bapa padaNya, daripada meneladani orang yang tidak mau berubah atau diubah pendapat dan pemikiran mereka.
Apa yang dikatakan Tuhan Yesus dalam ayat 4-5 hendak mengatakan bahwa ketika saat dan waktunya kerja, maka yang dikehendaki Allah adalah bekerja bukan habiskan waktu itu untuk mempercakapkan hal-hal yang tidak berfaedah yang menyebabkan kerja itu tidak dilakukan.
Di titik ini, pesan yang diberikan pada kita untuk memanfaatkan waktu dengan baik, yaitu dengan pekerjaan-pekerjaan baik, yang berfaedah untuk bangun hidup, pribadi atau kelompok, yang berdampak pada sesama dan yang mempermuliakan Allah, daripada menghabiskan waktu untuk mempersoalkan sesuatu yang lahir dari iri hati, dengki, cemburu pada seseorang karena ketidakmampuan yang ada pada kita.
Dan karenanya, setelah memberikan penjelasan kepada para murid dan orang banyak yang ada di sekitarNya, Tuhan Yesus pun ingin menunjukkan kepada para murid dan orang banyak akan apa yang Ia katakan itu melalui si buta yang Ia temui saat berjalan.
Ayat 6 menunjukkan itu bagi kita. Tuhan Yesus menyembuhkan si buta itu. Dalam proses penyembuhan itu ada 3 hal yang diberikan kepada kita untuk kita pedomani. Ketiga hal itu adalah pertama di ayat 6 Tuhan meludah ke tanah, mencapur tanah itu dengan ludahNya dan mengoleskan campuran tanah itu pada mata si buta. KeduaIa menyuruh si buta pergi ke kolam Siloam untuk membasuh dirinya (ayat 7). Dan ketiga si buta itu melakukan apa yang diperintahkan Tuhan kepadanya (ayat 7). Apakah artinya?
Apa yang dilakukan Tuhan Yesus pada ayat 6-7 ini adalah sebuah perlakuan dalam tindakan nyata untuk membantah tuduhan para orang Yahudi padaNya di pasal 8:48-53 itu, tentang penggunaan kuasa setan.
Dalam cara Yesus menyembuhkan si buta ini, sangatlah berbeda dengan penyembuhan pada beberapa orang buta lainnya. Di Markus 10:52 dan Lukas 18:42-43, ada juga cerita tentang penyembuhan orang buta. Dalam penyembuhan itu tidak ada sentuhan fisik seperti di injil Yohanes, hanya dengan perkataan. Kenapa?
Jawabannya adalah karena apa yang dilakukan dalam cerita yang kita baca ini adalah pembuktian atas tuduhan orang Yahudi padaNya tentang kuasa Setan.
Dalam menjalankan kuasanya, setan biasanya memperlihatkan aksi spektakuler untuk mendatangkan rasa kagum, keinginan dari orang yang menyaksikannya untuk mengikutinya dan juga rasa takut. Untuk itu kerja kuasa setan dilakukan tanpa sentuhan fisik.
Dengan melakukan penyembuhan melalui tindakan dan sentuhan fisik, apa yang diperbuat Tuhan Yesus mematahkan tuduhan penggunaan kuasa setan. Tindakan mematahkan tuduhan itu dilakukan juga dengan meminta orang buta itu membasuh diri di kolam Siloam, sehingga dengan sendiri praktek penggunaan kuasa setan seperti yang dituduhkan padaNya gugur dengan sendiri.
Selanjutnya, dengan melakukan tindakan sebelum menyembuhkan si buta, memakai ludah dan tanah serta perintah ke kolam, ada pesan lain juga yang mau diberikan Tuhan Yesus, yaitu pesan yang berisikan perjuangan dan kepatuhan.
Disebutkan pesan perjuangan karena tindakan mencampur tanah dengan ludah dan mengoleskannya pada mata si buta adalah gambaran bahwa pemulihan itu dapatkan melalui sebuah perjuangan. Melalui kerja bukan datang dengan tiba-tiba.
Pesan ini mempertegas apa yang dikatakan Tuhan Yesus tentang siang sebagai waktu kerja di ayat 4. Pesan itu adalah ketika waktu kerja dan orang menggunakan waktu itu untuk bekerja dengan baik, maka hasil dari kerjanya itu akan memberikan kepadanya kebahagiaan. Menolongnya menemukan cara untuk keluar dari persoalan kehidupan yang dialaminya.
Kerja seperti itu adalah kerja yang dilandaskan juga pada kepatuhan untuk melaksanakan perintah dan taat hukum, dalam hal ini perintah Tuhan dan kehendak Tuhan.
Jadi kalau orang bekerja di waktu kerja dengan baik, tidak habis waktu kerja dengan hanya omong banyak, apalagi omong karena didorong sakit hati, cemburu, iri pada orang, dan dikerjakan dalam pengharapan, kepatuhan dan ketaatan pada norma dan kehendak Tuhan, maka kebahagiaan dan kedamaianlah yang akan diterima, seperti yang dialami si buta.
Inilah point pertama yang bisa kita maknai dari penyembuhan pada si buta oleh Tuhan Yesus.
Selanjutnya, dalam cerita ini kita juga menemukan bahwa penyembuhan si buta ini bukan sesuatu yang kebetulan. Penyembuhan ini juga memiliki pesan tentang kepedulian Tuhan Yesus pada si buta karena ketika Tuhan Yesus dan rombonganNya lewat di tempat si buta itu berada, Ia tidak melanjutkan perjalananNya, tetapi Ia berhenti untuk menyembuhkan si buta.
Informasi seperti ini mau menunjukkan bahwa Tuhan itu peduli dengan keadaan yang ada pada kita, salah satunya adalah keadaan ketidakberdayaan kita karena kehilangan kemampuan untuk melakukan suatu aktivitas akibat keterbatasan fisik, yang sekarang dikenal dengan nama disabilitas.
Si buta adalah seorang disabilitias. Ketika ia bertemu dengan Tuhan Yesus, ia ditolong Tuhan Yesus. Perbuatan Tuhan Yesus ini mau menunjukkan pesan bagi kita, gereja dan orang percaya untuk juga memberikan perhatian nyata bagi kaum disabilitas.
Perhatian itu bukan sekedar sebuah percakapan saja, melainkan tindakan dengan memanfaat apa yang ada pada kita untuk menopang mereka dalam menjalani aktivitas hidup mereka.
Apa yang dilakukan Tuhan Yesus dalam ayat 6. Memberikan pesan bagi kita bahwa tindakan nyata itu bisa dibuat dalam bantuan langsung, tapi juga melalui kegiatan pemberdayaan.
Mereka yang disebut disabilitas tidak boleh dikucilkan apalagi mengalami perlakuan dibully. Tugas gereja dan orang percaya adalah memperhatikan dan memberdayakan mereka untuk dapat menjalani hidup mereka dengan baik dan sukacita.
Aktivitas seperti itu adalah bagian dari tanggung jawab kita untuk melakukan pekerjaan Tuhan yang mengutus kita dan dilakukan sekarang, di waktu siang, ketika kita masih mampu melakukan sehingga tidak bisa ditunda. Untuk hal ini maka pesan kedua dari bacaan firman ini bagi kita adalah kalau Tuhan memberi perhatian pada mereka yang disabilitas, maka kita pun wajib melakukannya.
Tuhan menolong kita. Amin.