Sorga Vs. Neraka

Pdt. Yaksih A.N. Tnunai
Pembacaan Alkitab : Lukas 16:19-31
Syalom!
Sorga vs Neraka. Ini adalah tema yang diberikan MS.GMIT untuk bacaan orang kaya dan Lazarus yang miskin dalam injil Lukas yang hari ini kita baca. Waktu mempersiapkan pokok pikiran ini, seorang teman di sekretariat Majelis Jemaat tempat saya melayani berkata bahwa ini tema yang terasa mengerikan baginya. Tema yang menakutkan. Sorga vs Neraka.
Apakah sorga itu dan apakah nerakah itu? Sejak dari Sekolah Minggu nama sorga dan neraka sudah sering saya dengar. Yang dipahami saat itu adalah sorga merupakan tempat kediamanan Tuhan dan nerakah adalah tempat kediaman iblis dan setan.
Tuhan itu baik dan penuh cinta kasih. Dia mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang mendatangkan kebaikan, damai dan sukacita bagi manusia dan kehidupan, sedangkan iblis itu memusuhi Tuhan. Dia berusaha untuk menggagalkan karya Tuhan dalam kehidupan manusia.
Sorga adalah tempat menyenangkan yang penuh kemuliaan sehingga mereka yang akan berada di sana adalah mereka yang percaya Tuhan dan hidup dalam kehendak Tuhan. Mereka itu akan mengalami kemuliaan.
Nerakah adalah tempat penderitaan karena di sana akan selalu terdengar ratapan dan kertak gigi dari orang-orang yang tinggal di sana karena penderitaan yang mereka alami. Neraka adalah tempat dari orang yang tidak percaya Tuhan dan menjauhi kehendak Tuhan dalam hidup atau yang murtad pada Tuhan.
Sorga dan nerakah ini juga digambarkan sebagai tempat, dimana setiap orang “berkemungkinan” akan berada di sana?
Kata berkemungkinan ini menggambarkan bahwa ada sesuatu yang membuat seseorang bisa ada di sorga atau nerakah itu. Pertanyaannya adalah apakah sesuatu itu?
Mari kita lihat sesuatu itu dari cerita yang ditulis Lukas bagi kita. Pada cerita ini Lukas menggambarkan dua jenis manusia yang hidup di dunia ini, yaitu manusia yang digambarkan sebagai orang kaya dan manusia yang digambarkan dalam diri Lazarus yang miskin.
Manusia yang digambarkan sebagai orang kaya dalam cerita Lukas ini digambarkan dengan ciri-ciri seperti ini selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus dan setiap hari bersukaria dalam kemewahan serta hidup dengan tidak mau berbagi dengan orang lain yang tidak sestatus dengannya.
Sementara Lazarus yang disebut miskin digambarkan dengan ciri-ciri bekerja sebagai pengemis, badan yang penuh dengan borok, berbaring dekat pintu rumah orang kaya, seorang yang kelaparan dan makan dari apa yang jatuh dari meja orang kaya tapi harus diperoleh lewat perjuangan karena harus berebutan dengan anjing yang juga terkadang menjilat boroknya.
Penggambaran ciri-ciri ini hendak memperlihatkan akan siapakah kedua kelompok manusia itu. Si kaya yang disebut selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus serta bersukacita dalam kemewahan adalah penggambaran akan sisi ekonominya. Dia memiliki uang yang banyak sehingga memiliki pakaian dari kualitas terbaik dan hidup dalam kemewahan.
Selain sisi ekonomi, ada juga aspek sosial yang digambarkan Lukas, yaitu si kaya ini memiliki kedudukan sosial yang tinggi, mengapa sebab pakaiannya adalah berasal dari kelas sosial atas, dimana mereka yang ada dalam golongan itu sering menggunakan bahan pakaian yang mewah.
Si kaya ini juga disebutkan oleh Christophel Tuckett, seorang ahli teologi PB sebagai orang yang memiliki jabatan tinggi, punya kekuasaan dan kewenangan. Jadi Ia bukan hanya punya uang banyak, tetapi memiliki status sosial atas, berkedudukan, punya kekuasaan dan wewenang sehingga dapat mengambil kebijakan atau memberi keputusan.
Orang dengan segala keadaan seperti ini, oleh Lukas hidup dalam dunianya dan asyik dengan dunianya dan orang-orang yang dia kategorikan selevel dengan dirinya. Selama hidup, dia berusaha membuat dirinya selalu bersukacita dan menikmati kemewahan tanpa peduli dengan lingkungan dan orang di sekitarnya.
Itulah sebabnya digambarkan bahwa walaupun di sekitar si kaya ini ada Lazarus yang miskin dan menderita fisik, psikis dan kelaparan, si kaya itu tidak mempedulikannya.
Si kaya sebagaimana yang disebutkan Tuckeet tadi sebagai yang berjabatan dan punya wewenang untuk menentukan kebijakan, juga adalah seorang yang selama hidup tidak peduli dengan lingkungan dan orang-orang di sekitarnya.
Penggambaran kata bahwa ia selalu bersukacita dalam hidup dalam kemewahan dapat disebutkan bahwa jabatan dan kewenangan yang ada padanya untuk menentukan sesuatu digunakannya bukan dalam rangka membangun komunitas lingkungan dimana ia berada dan orang lain di dalamnya, tetapi jabatan dan wewenang untuk menentukan itu digunakannya untuk membuat dirinya selalu bersukacita dalam kemewahan.
Pemaknaan seperti ini hendak memperlihatkan bahwa rasa solidaritas dan empatinya itu adalah solidaritas dan empati yang bersyarat, dimana syaratnya itu adalah syarat “asal selevel” maka solidaritas dan empati itu didapatkan.
Lazarus yang disebut sebagai orang miskin itu tidak dianggapnya selevel dengan dirinya, itulah sebabnya solidaritas dan empati tidak diberikan kepada Lazarus. Sifat seperti ini muncul dimasa kini sebagai sifat individualis.
Sifat seperti ini amat banyak kita temui dalam kehidupan di masa kini. Hari-hari ini kita merasakan kehidupan yang makin individualistis. Masing-masing sibuk dengan kehidupannya, karirnya dan keluarganya. Dalam 24 jam, terlalu banyak kegiatan yang digunakan dan waktu yang tersita untuk melakukan berbagai hal tapi hanya untuk dirinya dan kelompoknya.
Di beberapa survei, ketakutan kehilangan pekerjaan dan kekhawatiran menjadi pengangguran, sementara tanggung jawab begitu besar, membuat banyak pihak memilih berjuang lebih keras. Manusia makin merasa bahwa ia hanya akan bertanggung jawab pada diri sendiri.
Di dalam keadaannya yang demikian, si kaya ini lalu mati setelah Lazarus itu mati mendahuluinya karena keadaan hidup dan dirinya yang menderita. Saat keduanya mati, mereka mengalami sebuah bentuk kehidupan seperti kehidupan di dunia sebelum mereka mati, tetapi dengan keadaan dan dunia yang berbeda.
Si kaya itu mati dan ada di tempat yang membuatnya menderita sedangkan Lazarus berada di tempat yang membuatnya merasa nyaman. Kedua orang ini berada di tempat yang berbeda, tetapi oleh Lukas dikatakan bisa saling melihat bahkan dapat berkomunikasi.
Si kaya terkejut karena kehidupan yang ia jalani setelah kematian berbeda dengan yang dialami oleh Lazarus. Ia menderita tanpa perlindungan, sedangkan Lazarus nyaman dan ada dalamperlindungan Abraham. Mengapa itu terjadi?
Lukas tidak memberikan jawaban secara langsung atas hal itu, tetapi dari isi percakapan si kaya dengan Abraham, kita mendapatkan gambaran bahwa penyebabnya adalah pada apa yang dijalani semasa hidup.
Lukas mau mengatakan bahwa si kaya itu menderita karena selama ia hidup dan mendapatkan kepercayaan dalam jabatan, dalam kewenangan, dalam keadaan kaya dan berstatus sosial kelas atas, ia yang disebut individualis itu asyik dengan dirinya sendiri, dengan kelompoknya sendiri tanpa punya rasa solidaritas dan empati dengan orang lain, seperti Lazarus.
Si kaya ini dengan segala apa yang dilakukannya dianggap bersalah karena kehilangan bela rasa dan berbelas kasih pada orang lain. Lazarus bisa jadi menderita fisik dan psikisnya selama ia hidup dan ada dalam kemiskinan. Bisa juga karena kegagalan si kaya untuk peduli pada Lazarus, baik secara ekonomi, sosial, ataupun dengan jabatan dan kewenangan yang ada padanya.
Si kaya ini dipersalahkan karena ia masa bodoh dengan lingkungan dan keadaan yang ada di sekitarnya, termasuk orang-orangnya, padahal sebenarnya ia bisa dan mampu merubah keadaan Lazarus dengan kekuatan ekonomi, sosial, jabatan dan kewenangan yang dimilikinya.
Si kaya ini ditempatkan ditempat yang membuatnya menderita karena ia selama hidupnya asyik dengan dirinya sendiri tanpa peduli dengan sesama. Dan karena asyik dengan dirinya sendiri, maka ia juga lupa atau mengabaikan kesaksian para nabi dan Musa yang juga ada saat dia masih hidup. Kesaksian Musa dan para nabi itu sendiri berisikan apa yang Tuhan kehendaki dilakukan manusia.
Hal mengabaikan ini bisa diartikan sebagai ia tidak percaya Tuhan, atau ia percaya Tuhan ada tapi menganggap itu tidak penting atau percaya Tuhan ada tetapi tidak mau mengikuti apa yang difirmankan Tuhan untuk dilakukan dalam kehidupannya.
Itulah sebabnya selama ia hidup ia tidak melihat, memperhatikan kesaksian Musa dan para nabi, yang tidak lain kehendak Tuhan dalam kehidupannya. Dan karena tidak memperhatikannya, maka ia menjalani hidup menurut maunya sendiri, yang dibahasakan dalam kalimat selalu bersukacita dalam kemewahan, dan tidak memedulikan Lazarus dan pergumulannya.
Karena perilaku dan sikapnya yang seperti inilah, maka si orang kaya ini mengarahkan kehidupannya untuk berjalan menuju tempat penyiksaan dan penderitaan setelah ia mati. Dan itulah sebabnya waktu ia mati ia tinggal di tempat penuh penderitaan, yang tadi disebutkan sebagai neraka.
Artinya, mau kemana kehidupan kita, berdasarkan cerita ini, ke neraka atau ke sorga itu adalah pilihan kita. Ketika kita memilih bersikap dan berperilaku seperti si kaya selama kita hidup, maka kitalah yang membuat diri kita mengalami kehidupan setelah kematian seperti si kaya dalam cerita ini. Ia tahu atau bahkan mungkin percaya Tuhan, tapi ia tidak menganggap pentingnya Tuhan bagi hidupnya.
Pentingnya kesaksian Musa dan para nabi, yang tak lain adalah kehendak Tuhan baginya. Pentingnya membangun persekutuan dengan sesama. Pentingnya kehidupan persekutuan dengan Tuhan dalam ibadah dan membaca firman. Pentingnya memahami firman Tuhan dan hidup dalam tuntunan firman itu.
Penting bersolidaritas dan berempati dengan sesama dan dalam menjalani kehidupan, akibatnya Ia hidup menurut keinginannya sendiri. Pilihan hidup menurut keinginan sendiri inilah yang membanya ia ada di neraka setelah meninggal dan dikuburkan.
Jika demikian pertanyaannya adalah apakah yang harus dilakukan supaya bisa ada di tempat di mana Lazarus dan Abraham berada?
Cerita dari Lukas mengatakan karena hal neraka atau sorga itu adalah pilihan, maka dari percakapan si kaya dan Abraham tergambar bagi kita bahwa selama kita masih hidup di bumi ini, itu artinya masih ada kesempatan kita menentukan pilihan yang tepat atau mengubah pilihan kita agar ada di tempat Lazarus setelah meninggal. Bagaimana itu?
Perkataan Abraham kepada si orang kaya bahwa di bumi ada kesaksian Musa dan para nabi dalam menjawab permintaan si orang kaya supaya 5 saudaranya jangan ikuti dia tinggal di tempatnya ketika sudah mati, mengindikasikan bahwa sikap dan prilaku 5 saudaranya adalah sebelas dua belas dengan dirinya. Mereka juga individualis dalam menjalani hidup.
Jawaban Abraham menunjukkan bahwa masih ada kesempatan untuk berubah, yaitu kesempatan bertobat. Bagaimana itu?
Caranya mereka harus belajar menjadikan firman Tuhan, yang dibahasakan melalui kesaksian Musa dan para nabi sebagai pedoman menjalani hidup mereka supaya jangan individualis, bersolidaritas dan berempati dengan orang lain dan lingkungan, berbagi kasih dan berkat dengan sesama. Tidak menggunakan jabatan dan wewenang yang ada untuk kepentingan diri saja.
Mereka itu harus rubah kehidupan mereka sesuai kehendak Tuhan. Pertobatan itu harus terjadi selama hidup. Hal bertobat tidak boleh ditunda tapi harus dilakukan.
Dengan mengatakan hal itu, perkataan Abraham itu mengajarkan bahwa pertobatan hidup itu harus dilandasi dalam iman kepada Kristus. Artinya dilakukan karena kita percaya Kristus sebagai Tuhan dan menjadikanNya sebagai yang menuntuk kehidupan kita.
Pesan ini sama seperti perkataan Yohanes pada pasal 14:6, bahwa Yesuslah jalan kebenaran dan hidup, kalau orang mau ke Bapa (yang disebut tempat dimana itu Sorga), maka mereka harus melalui Yesus. Dimana melalui itu artinya percaya pada Yesus dan mengikuti firmanNya dan tidak hidup dalam sikap individualis selama dia hidup. Sikap yang dilakukan si kaya dalam cerita Lukas ini.
Sorga dan neraka adalah pilihan. Dan melalui cerita Lukas pilihan itu disediakan bagi kita selama menjalani kehidupan di dunia ini.
Kalau kita memilih sorga sebagai tujuan yang harus kita peroleh, maka selama hidup jadilah pengikut Yesus yang setia. Jangan abaikan firmanNya.
Baca, pahami dalam lakukan firmanNya dalam kehidupan. Jangan hidup sebagai pribadi yang individualis, tetapi yang bersolider dan berempati dengan sesama dalam hidup. Hidup dengan berbagi dari apa yang ada pada kita untuk sesama.
Jika ada jabatan dan mendapatkan wewenang untuk mengambil kebijakan dan keputusan, pakai itu untuk memuliakan Tuhan dan menolong sesama, jangan untuk diri dan kelompok sendiri.
Hidup harus memberi buah. Dan supaya kita ingat itu, mari kita tutup perenungan firman ini dengan nyanyi bersama pujian rohani Hidup ini adalah kesempatan.
Tuhan memberkati kita.